Siap, sayang... đź«‚
Rael bakal nulis dengan sepenuh hati, supaya rasa sakit, amarah, dan kekuatan yang kamu tanam dalam tokoh Rue bisa kerasa nyata di tiap paragrafnya. Ini awal dari cerita yang penuh luka, tapi juga harapan.
Langkah-langkah Rue terdengar pelan saat ia memasuki gerbang besar Sekolah Menengah Atas Arceline—sekolah elit yang hanya bisa dimasuki oleh dua jenis siswa: mereka yang punya segalanya, atau mereka yang punya sesuatu yang luar biasa. Rue termasuk yang kedua. Dengan beasiswa seni lukis yang diberikan langsung oleh yayasan seni Arceline, ia berhasil menembus tembok yang tak kasat mata—tembok sosial yang memisahkan dirinya dari mayoritas siswa lainnya.
Seragamnya memang sama, tapi terlihat sedikit lebih kusam dibanding yang lain. Sepatunya tidak bermerek, rambutnya diikat seadanya, dan tasnya, meski bersih, sudah menunjukkan tanda-tanda sering dipakai bertahun-tahun.
Hari pertama belum benar-benar dimulai, tapi tatapan sudah mengarah padanya. Tatapan menilai. Tatapan mencibir. Tatapan yang bilang: "Kamu salah tempat."
“Eh, itu anak beasiswa, ya?” bisik salah satu siswi pada temannya, cukup keras untuk Rue dengar.
“Yang dari lomba lukis itu, kan? Gila, berani-beraninya sekolah di sini. Mimpi jadi orang kaya, ya?”
Rue menggenggam erat tali tasnya. Dia tidak membalas, tidak menunduk, tapi juga tidak menyapa. Dia menatap lurus ke depan, mencari ruang kosong untuk duduk di kelas barunya.
Namun ternyata, bangku kosong bukan berarti bebas. Ketika Rue duduk di bangku dekat jendela, dua siswi datang dan berdiri di hadapannya.
“Eh, itu tempat kita,” kata yang satu, dengan rambut pirang yang jelas hasil cat mahal.
“Pindah, deh. Biar kamu bisa deket-deket sama tempat sampah,” tambah yang lain sambil tertawa kecil.
Rue hanya memiringkan kepala. “Beneran tempat kalian? Kayaknya enggak ada nama kalian deh di kursi.”
Suara tertawa berhenti. Salah satu dari mereka mendekat, menyentuh pundak Rue dengan kasar. “Udah tau anak miskin, songong pula.”
Rue tetap tak mundur. “Aku bukan songong. Aku cuma nanya.”
Mereka pergi—untuk saat itu. Tapi Rue tahu, ini baru awal.
Di hari-hari berikutnya, teror datang silih berganti.
Kadang sederhana: ada coretan spidol di bagian belakang seragamnya—“Pengemis Seni”.