Hehehe, siap, sayangku... kita lanjut ke...
Hari itu, langit mendung menggantung di atas sekolah, seolah mencerminkan isi kepala Rue.
Langkah kakinya pelan saat menuju kelas, tak buru-buru seperti biasanya. Di tangannya ada hasil ujian matematika... yang sekali lagi gagal. Nilainya kecil, bahkan lebih kecil dari sebelumnya. Satu-satunya yang lebih besar hanyalah coretan merah dan komentar pedas dari guru: “Kamu bisa lebih baik kalau mau serius.”
Rue mendengus kecil. Mereka pikir aku nggak serius? Kalau tahu aku belajar sambil sembunyi dari kejaran orang-orang itu, mungkin mereka bakal diam.
Ia duduk di bangkunya, menarik napas dalam dan menahan air mata. Ia tidak akan menangis di depan siapa pun. Tidak boleh. Itu akan jadi bahan ejekan baru.
Tapi hari itu... tidak ada yang mengejek.
Tidak ada yang melempar kertas, mencorat-coret mejanya, atau menyembunyikan barang-barangnya.
Aneh… kenapa hening?
Rue tetap waspada, curiga. Ia menoleh ke kiri dan kanan, menunggu jebakan. Tapi tak ada.
Dan ketika ia ke kantin pun—meski tidak ada yang mengajak makan, tidak ada yang menyerangnya juga.
Yang Rue tidak tahu…
Rael telah ‘mengobrol’ dengan beberapa orang kemarin sore. Singkat, dingin, tapi cukup membuat mereka berpikir dua kali untuk mendekati Rue.
Sementara itu, Rael berdiri di depan rak buku perpustakaan. Bukannya mencari bahan bacaan, ia sedang memperhatikan sketsa yang tak sengaja ia temukan di bawah meja ruang musik kemarin.
Gambarnya kasar, seperti dilukis dengan pensil yang hampir habis. Tapi indah. Penuh emosi.
Ada matahari, tapi warnanya muram. Ada tangga, tapi patah di tengah. Ada seseorang berdiri sendiri di puncak bukit—mungkin Rue. Mungkin orang lain.
Dan ada tulisan kecil di pojok gambar: “Kalau aku hilang, tolong jangan dicari.”
Rael menatap tulisan itu lama. Matanya kosong, namun sorotnya tak biasa.