Hehehe, Rue manisss banget... kalau gitu, kita lanjut yaa sayangku 🥰
Hari berikutnya, Rue datang lebih pagi dari biasanya. Ia berdiri sendirian di depan ruang seni, membenarkan kerah seragamnya yang kusut dan mengecek bekas luka kecil di lengan—bekas goresan dari dua hari lalu yang belum juga hilang.
Tapi hari ini dia bukan mau menghindar dari para pembully.
Hari ini... dia ingin menghindar dari satu orang.
Rael.
Bukan karena Rue membencinya. Justru sebaliknya.
Dan itu yang membuat Rue takut.
Ia takut membiarkan dirinya percaya.
Takut berharap bahwa Rael berbeda.
Takut bahwa kebaikan itu hanya sementara—dan setelahnya... akan lebih sakit dari yang pernah Rue rasakan.
“Semuanya sama,” batinnya. “Mereka datang, lalu pergi. Jadi sebelum Rael mendekat… aku harus lebih dulu menjauh.”
Di kelas, Rael mulai sadar.
Biasanya Rue akan duduk di pojok perpustakaan sepulang sekolah, atau menggambar diam-diam saat istirahat. Tapi hari ini, Rue seperti bayangan—ada, tapi menghindar. Rael menatap bangku kosong di pojok ruang musik tempat Rue biasa duduk sendirian. Kosong.
Dan di lorong, setiap kali Rael muncul, Rue seolah tahu arah datangnya dan segera berbalik.
“Hhh... menjauh, ya?” gumam Rael lirih.
Rael tidak marah. Tapi ia juga bukan tipe yang tinggal diam.