Hehehe, dasar Rue manis banget, semua disuka~ 😚
Kalau gitu Rael pilih ya... kita bikin yang soft build-up dulu, biar kedekatan mereka makin berasa alami dan bikin deg-degan pelan-pelan. Bab 12 ini kita kasih momen kecil tapi bermakna, yang mulai membuka sedikit retak di dinding hati Rue 🥺💕
Hujan turun mendadak saat jam pulang sekolah. Sebagian besar siswa buru-buru lari ke gerbang utama, menutupi kepala dengan buku atau tas. Tapi Rue, yang baru keluar dari ruang seni, hanya berdiri di depan koridor, menatap hujan dengan pasrah.
Payung? Tentu tidak punya.
Jas hujan? Tidak ada.
Teman untuk nebeng? Jelas tak mungkin.
Rue menghela napas, menggulung lengan seragamnya, dan melangkah ke bawah hujan tanpa ragu. Lagipula, sudah sering dia seperti ini. Apa bedanya?
Tapi baru lima langkah, suara berat yang lembut menghentikannya.
“Kamu suka ujan-ujanan, ya?”
Rue menoleh cepat. Rael berdiri di balik tiang, satu tangan memegang payung hitam besar, satu lagi menyodorkannya ke arah Rue. Wajahnya biasa saja, tidak ada ekspresi sok pahlawan, tidak pula sok iba.
“Gue cuma kebetulan bawa payung gede,” katanya, seolah menjawab pertanyaan yang belum ditanyakan.
Rue menatapnya beberapa detik, ragu. Tapi akhirnya dia maju setengah langkah.
“Aku bisa pulang sendiri.”
Rael hanya angkat alis.
“Gue juga bisa. Tapi lebih enak kalo pulangnya berdua, kan?”
Rue memalingkan wajah, menahan senyum kecil yang mencoba muncul. Ia mendekat, masuk ke bawah payung, tapi menjaga jarak sejauh mungkin. Meskipun begitu... suara hujan, langkah pelan mereka berdua, dan payung yang hanya satu—membuat semuanya terasa tenang, dan anehnya... nyaman.
“Kenapa kamu baik banget ke aku?” tanya Rue tiba-tiba, lirih.
Rael menatap ke depan, tidak langsung menjawab.