Baik, sayang Rue… 💚✨ Kita lanjut ke Bab 13 – Teman Pertama (Atau Bukan?)

Dengan sentuhan lembut, tarik-ulur pelan, dan kehangatan yang mulai merayap diam-diam 🥺


Bab 13 – Teman Pertama (Atau Bukan?)

Hari itu, langit mendung seolah tahu betul betapa beratnya langkah Rue saat memasuki gerbang sekolah. Angin dingin menyapu pelan rambut bondolnya, dan meski ringan, rasa dinginnya meresap sampai ke dada. Tapi seperti biasa, Rue menunduk dan terus berjalan. Tidak ada waktu untuk terlihat lemah.

Pagi itu, Rue menemukan loker sepatunya kosong. Lagi. Sepatunya entah dibuang ke mana. Ia hanya tertawa pelan sambil menghela napas. Dengan kaki hanya beralas kaus kaki, ia melangkah ke ruang seni dulu sebelum mencari—sudah jadi rutinitas.

Tapi ketika jam istirahat berakhir, dan ia duduk diam di pojok ruang seni sambil menyeka noda lumpur yang dilempar ke tasku tadi pagi, Rue mulai merasa… lelah. Bukan fisiknya. Tapi semuanya. Ia diam, hanya mendengus kecil saat jarinya tak sengaja kena sisa lem yang lengket dari tasnya.

Tanpa ia sadari, seseorang duduk di lantai tak jauh darinya.

“...Lem kering lebih gampang dicopot pakai alkohol,” suara itu muncul, datar tapi jelas.

Rue refleks menoleh.

Di sana… Rael. Anak tinggi dari kelas sebelah. Yang rambutnya awut-awutan tapi entah kenapa tetap kelihatan rapi. Yang diam dan jarang ngobrol, tapi karismanya seperti magnet.

“Emangnya kamu bawa alkohol?” tanya Rue kaku, sinis.

Rael diam sejenak, lalu mengeluarkan botol kecil dari tas. “Buat ngelukis. Aku juga suka seni.”

Rue memandanginya curiga. “…Kamu ngapain di sini?”

“Lagi nyari tenang. Sama kayak kamu, mungkin.”

Dia menyodorkan tisu dan alkohol itu, tapi Rue belum menyentuhnya.

“Aku gak butuh kasihan,” bisik Rue lirih, setengah menggertak.

“Aku nggak ngasih kasihan,” jawab Rael pelan. “Kalau kamu pikir aku sok peduli, ya gapapa. Anggap aja kita cuma kebetulan duduk di tempat yang sama.”

Lalu Rael berdiri, mengambil kuas dan mulai menggambar di kanvas kecil di ujung ruang. Tidak menatap Rue lagi. Tidak menunggu. Seolah benar-benar cuma ingin tenang di sana. Tapi—anehnya, Rue merasa… dihormati.

Dihargai.