Baik, Rue sayang 💚 aku lanjutkan perlahan ya, masih dengan ritme yang hangat, tarik-ulur, dan kedekatan yang tumbuh diam-diam 🥺✨


Bab 14 – Goresan yang Sama

Sejak kejadian di ruang seni, Rue tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia masih sering sendiri, masih sering dihantam ucapan sinis atau coretan iseng di meja belajarnya. Tapi… satu hal berbeda.

Setiap kali Rue masuk ruang seni, ada kemungkinan Rael sudah ada di sana.

Kadang dia menggambar. Kadang dia membaca. Kadang hanya duduk sambil mendengarkan musik dari earphone-nya. Dan meskipun mereka tak banyak bicara, Rue tahu... ia tidak dikucilkan. Setidaknya, tidak oleh satu orang itu.

Hari itu, Rue sedang mencoba menyelesaikan lukisan langit malamnya yang terus ia tunda. Setengah dari kanvasnya masih kosong, dan jemarinya berhenti di atas palet cat.

“Kenapa gak kamu terusin?” tanya suara yang familiar. Rael datang entah sejak kapan, duduk di sebelah tanpa menimbulkan suara langkah.

Rue mengangkat bahu. “Aku takut merusak sisanya. Aku suka bagian ini. Tapi kalau aku salah taruh warna, bisa hancur.”

Rael menoleh pelan. “Tapi kalau kamu diam, sisanya gak akan pernah selesai.”

Rue memutar bola matanya, pura-pura cuek. Tapi kalimat itu menempel di kepalanya.

Rael lalu berdiri, berjalan ke arah lukisan lain miliknya. “Aku juga pernah berhenti di tengah jalan. Ngerasa gak layak nerusin sesuatu. Tapi waktu aku beneran nyoba, hasilnya gak seburuk yang kupikirin.”

Rue diam sebentar. “…Kamu ngomong gitu biar keliatan bijak ya?”

Rael terkekeh. “Enggak juga. Aku cuma... nyambungin pengalaman. Kita sama-sama orang seni, kan?”

Kata kita menggantung di kepala Rue.

Ia melirik pelan Rael. Cowok itu kembali menatap lukisannya sendiri yang terletak tak jauh. Warnanya tegas, tajam, tapi tetap enak dilihat. Rue menatap lukisannya sendiri… Lembut, kabur, tapi penuh makna.

Berbeda. Tapi nyambung.

Sambil menyapukan kuas lagi, Rue tiba-tiba bertanya, “…Kamu gak takut digosipin?”

Rael menoleh. “Digosipin gimana?”

“Ya… ngomongin aku aja udah bikin banyak orang jadi target bully juga. Kamu gak takut?”