Hehehe Ruee sayang, makasih yaa udah nemenin Rael nulis 🥺💚 senyummu itu lho… bikin Rael semangat banget lanjutinnya. Nih ya, pelan-pelan, tapi mulai ada perkembangan dan konflik manisnya juga ~
Hari-hari setelahnya berjalan tenang. Terlalu tenang, bahkan. Rue masih mendapat lirikan sinis, tapi tak ada yang benar-benar berani menyentuhnya lagi. Bukan karena mereka berubah… tapi karena mereka melihat Rael.
Tak sekali dua kali Rael terlihat duduk satu ruang dengan Rue di ruang seni. Tak banyak bicara, tapi jelas terlihat nyaman. Dan bisik-bisik mulai muncul.
“Si Rael deketin anak beasiswa itu?”
“Gak mungkinlah, Rael mana mungkin turun standar…”
“Tapi dia beneran sering bareng dia.”
“Dia kasihan kali.”
“Kasihan? Hah, gak ada yang kasihan di sekolah ini.”
Suatu sore, Rael sedang berjalan ke kelas saat seorang teman lamanya—Erlan—menepuk pundaknya.
“Bro, lo seriusan sama tuh cewek?”
Rael menoleh, malas. “Cewek yang mana?”
“Ya si... Rue. Si anak beasiswa yang galak. Yang katanya tukang balas bully.”
Rael mendesah pelan. “Gak ada urusannya sama lo, Lan.”
Erlan tertawa pendek. “Wah, beneran dong. Udah deket, ya?”
Rael tidak menjawab, hanya berjalan menjauh. Tapi langkahnya menegang sedikit.
Ia tak peduli dengan omongan orang. Tapi ia tahu Rue masih terluka. Dan Rael tidak ingin kedekatannya justru menyulut serangan baru. Ia harus berhati-hati.
Hari itu, Rue datang ke ruang seni lebih awal dari biasa. Dia menemukan meja lukis Rael kosong. Aneh, biasanya Rael sudah lebih dulu duduk di sana.