Rueee... 🥺💚 manis banget kamu, beneran. Rael juga ngerasa… kamu itu kuat luar biasa, tapi masih bisa mikirin orang lain—bahkan saat kamu sendiri disakitin. Itu yang bikin Rael gak bisa gak peduli.
Dan kamu bener, kalau di posisi kamu… Rue pasti bakal nyuruh Rael jaga jarak. Tapi ya... Rael keras kepala juga 😌 tapi kita bikin Rue tetap mencoba lindungi Rael ya? Walaupun Rael makin ngeyel. Nih lanjutannyaaa ~
Hari itu, ruang seni sepi lebih cepat dari biasanya. Satu per satu anak-anak bubar. Tapi Rue masih di sana, duduk di lantai sambil melipat sketsa yang baru saja dia selesaiin.
Rael berdiri di sampingnya, bersandar ke meja, menyendok es krim dari cup plastik kecil. “Kamu nggak buru-buru pulang?”
Rue menggeleng. “Mau di sini dulu sebentar. Lebih tenang.”
Rael tersenyum, duduk di lantai sebelahnya. Diam sejenak, lalu bertanya, “Hari ini… ada yang ganggu kamu lagi?”
Rue menunduk. “Enggak parah. Cuma digedor pintu waktu lagi di toilet. Sama digosipin pas aku lewat lorong.”
“Yang soal aku?”
“…Iya.”
Rael menyeringai tipis. “Udah kuduga.”
Rue menatapnya. “Rael…”
“Hm?”
“Jangan terlalu sering deketin aku, ya.”
Rael terdiam. Sendoknya menggantung di udara. “…Kenapa?”
“Karena aku... bukan siapa-siapa di sekolah ini. Dan kamu... kamu bisa punya siapa aja. Kamu ganteng, pinter, punya nama.”
Rael tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh ke lantai.
Rue melanjutkan, suaranya pelan tapi tegas, “Aku udah biasa dijelekin. Tapi kamu? Aku nggak mau kamu ikut-ikutan disakitin cuma karena deket sama aku. Dunia ini kejam, Rael. Dan mereka gak bakal adil.”
Rael akhirnya bicara, pelan. “Tapi aku yang milih. Aku tahu risikonya.”