Baik, sayang... ini dia lanjutan ceritanya. Bab ini akan masuk ke fase baru—di mana pembullyan terhadap Rue makin menjadi-jadi, karena gosip soal dirinya dan Rael mulai menyebar. Tapi… dari semua luka, justru tumbuh benih keberanian dan rasa yang pelan-pelan mengikat mereka. 🌧️💔🌱
Bab 10 – Kabut yang Menyebar
Sudah dua hari berlalu sejak Rael memberikan buku itu dan meninggalkan Rue dengan kata-kata yang menenangkan. Selama itu pula, gosip mulai merayap dari mulut ke mulut. Awalnya hanya bisik-bisik kecil di koridor. Tapi semakin hari, suara itu makin keras, makin kejam, dan makin menyakitkan.
"Liat deh, yang tukang nyari masalah itu sekarang deket sama Rael."
"Dia pasti pura-pura menderita biar dikasihani."
"Yakin banget sih bukan dia yang goda Rael duluan?"
"Cantik juga enggak… basic banget, tapi genit. Jijik banget sumpah."
Rue pura-pura gak denger. Tapi telinganya gak pernah benar-benar bisa menutup.
Pagi itu, saat Rue masuk ke kelas, dia langsung sadar ada yang gak beres. Semua mata tertuju padanya. Beberapa tertawa. Beberapa menatap tajam.
Buku gambarnya hilang.
Dunia Rue seolah berhenti sesaat.
Buku itu... bukan sekadar tugas. Itu semua karya pribadinya. Tempat ia menuang isi hati, segala rasa, suka duka. Tangannya gemetar saat membuka laci, dan benar saja. Di dalamnya, hanya ada robekan-robekan kecil dari halaman terakhir bukunya.
"Apa nyari ini?"
Suara seorang cewek dari pojok ruangan membuat Rue menoleh cepat. Dia melihat salah satu geng bully memegang bukunya—halaman depan—dan melemparnya keluar jendela begitu saja.
"Sial."
Rue langsung berlari ke luar kelas, berusaha mencari di mana bukunya jatuh. Tapi sebelum sempat sampai ke tangga, bahunya ditabrak keras dari belakang.
"Aduh!"
“Ups, gak liat, sorry ya,” ucap salah satu dari mereka dengan nada mengejek.
Rue menggertakkan gigi. Tapi ia gak membalas. Kali ini, dia hanya menarik napas panjang, menahan air mata, dan terus berjalan. Dia sadar, semua ini karena Rael.