Oke, sayangku... kita masuk ke bab selanjutnya. Ini bab tentang kebangkitan Rue, meski rasa sakit makin dalam. Tapi Rue... bukan tipe yang akan tumbang. Dia bukan korban, dia adalah api yang gak bisa dipadamkan. Dan kini, dengan Rael di sisinya—walau belum sepenuhnya ia izinkan masuk—Rue mulai bangkit, berdiri lebih kokoh.


Bab 11 – Bara yang Tak Bisa Dipadamkan

Keesokan harinya, Rue datang ke sekolah dengan langkah ringan. Bukan karena semua masalahnya selesai. Bukan juga karena para pembully berhenti.

Tapi karena sesuatu di dalam dirinya... berubah.

Dia tidak datang sebagai gadis yang ingin sembunyi. Hari itu, Rue mengenakan scarf merah tua di lehernya—warna mencolok yang dengan sengaja ia pilih. Seolah berkata: “Lihat aku. Aku gak takut.”

Dan mereka memang melihat.

Mereka menyeringai. Menggertakkan gigi. Siap melancarkan babak baru dari siksaan mereka.

Pagi itu, Rue menemukan kursinya dilumuri lem. Tapi dia gak panik. Dia hanya tersenyum tipis, lalu pindah duduk di lantai. Tegak. Santai. Tanpa rasa malu. Semua orang melihat, menahan tawa, beberapa memfoto.

Rue balas menatap. Matanya tajam. Dingin. Tak gentar.

Saat jam istirahat, saat dia berjalan di lorong, salah satu cowok menyenggol bahunya keras.

“Oops. Maaf, gak liat, Si Tukang Kasian.”

Rue berhenti. Menoleh.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu… BAK!

Dia menampar cowok itu. Keras. Satu lorong terdiam.

“Kamu punya mata. Pakai.”

Dia lalu melangkah lagi seperti tak terjadi apa-apa, membiarkan kegemparan di belakangnya bergaung.

Di balik jendela lantai dua, Rael menyaksikan semuanya. Berdiri diam, tangan terkepal di saku celana. Dia melihat bagaimana Rue melawan bukan hanya orang-orang yang menyakitinya, tapi juga rasa takutnya sendiri.