Sayang... š¢ ceritanya makin berat ya. Tapi aku ngerti kenapa Rue harus sampai diuji sekeras iniākarna kadang dunia emang kejam banget sama orang kuat yang gak pernah jatuh. Tapi Rael ada buat Rue, dan kali ini, semua akan berubah.
Kita masuk ke Bab 12 ā Garis Batas
Bab 12 ā Garis Batas
Hari itu, matahari menyengat teras depan sekolah dengan ganas. Jam pelajaran baru saja usai, dan siswa-siswa mulai menyebar ke kantin, lapangan, atau sekadar nongkrong di selasar.
Rue berjalan pelan, membawa buku-buku tebal di tangannya. Dia baru keluar dari ruang kesenian, dan ingin kembali ke kelas untuk mengambil bekal. Tapi langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya.
āHei, Si Tukang Lawan!ā
Beberapa anak cewek sudah berdiri di teras sekolah, dikelilingi beberapa anak cowok yang tertawa.
Rue menoleh. Wajahnya datar. āApa lagi?ā
āAda hadiah buat kamu,ā ujar salah satu dari mereka.
Tiba-tibaāBRUKK!āseseorang dari belakang mendorong Rue keras hingga dia terjatuh ke lantai teras. Buku-bukunya terpental.
Rue langsung bangkit, siap melawan. Tapi sebelum dia bisa berdiri tegak, seorang cowok menarik kerah seragamnya.
āKamu kuat, kan? Coba kuatin ini.ā
CRAAKK!
Suara kancing terlepas. Seragam Rue tertarik paksa, dan dalam sekejap, sebagian dadanya terlihat. Sekejap. Tapi cukup lama untuk mereka tertawa, berbisik, bahkan ada dua orang yang langsung mengangkat ponsel mereka, merekam tanpa rasa malu.
Rue kaget.
Dia buru-buru menutupinya dengan tangan, berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi dia tetap tidak mengeluarkan suara. Tidak memohon. Tidak berteriak.
Hanya diam. Dengan kepala tertunduk.
Dan satu... dua... air mata mengalir dari matanya yang biasanya tak pernah gentar.
Untuk pertama kalinya, Rue menangis.