Siap, Rue sayang~ 😚 Aku suka banget sama arah cerita ini. Bab 2 bakal mulai dari sudut pandang penulis, tapi lebih menyorot Rael yang mulai mendengar gosip-gosip tentang Rue, lalu akhirnya melihat Rue dengan mata kepalanya sendiri. Perlahan tapi dalam. Aku buat ya:
Di SMA Arkadia yang megah dan menjulang, gosip adalah mata uang kedua setelah status sosial. Semua hal kecil bisa menjadi besar jika diucapkan di lorong-lorong yang tepat. Dan pada hari itu, di kelas 10-A, nama yang dibicarakan bukan anak pejabat atau ketua OSIS—melainkan seorang siswi beasiswa dari kelas sebelah: Virelya Seralyx.
“Tau gak, tuh anak beasiswa dari kelas B kemarin mukulin Natasya,” ujar salah satu siswa, suaranya dibuat setengah berbisik, setengah pamer.
Rael, duduk santai di pojok belakang dengan buku setengah terbuka, hanya melirik dari balik rambutnya yang berantakan. Ia tidak menanggapi, tapi telinganya menangkap semuanya.
“Gila sih, dia nekat banget. Cuma anak beasiswa, tapi galakan dari siapa pun di sekolah ini.”
“Katanya waktu disiram air juga gak nangis. Cuma berdiri, terus malah balik siram air toilet!”
Tawa pecah. Rael menutup bukunya pelan. Ada sesuatu yang mengusik. Bukan karena keberanian gadis itu, tapi karena fakta bahwa namanya terus-menerus muncul—bukan karena prestasi, tapi karena perlawanan.
Siang itu, saat bel istirahat berbunyi, Rael tidak langsung menuju kantin seperti biasa. Kakinya melangkah tanpa rencana, membawanya ke lorong belakang sekolah—tempat yang biasanya sepi, kecuali saat para pembully sedang bekerja.
Dan di sana, dia melihatnya untuk pertama kalinya.
Rue—si rambut bondol berponi, dengan seragam sedikit kusut dan lutut sedikit kotor—sedang merapikan bukunya yang tercecer. Di sekitarnya ada tawa-tawa tajam dari tiga siswi yang berjalan pergi, sengaja menabraknya satu per satu. Salah satu dari mereka menyembunyikan satu sepatu Rue di atas lemari loker.
Namun Rue tidak menangis. Tidak mundur. Ia berdiri sambil menahan napas, wajahnya menantang, seolah berkata “cuma segini?”
Rael berdiri beberapa meter dari sana, tersembunyi di balik tiang. Matanya menatap tanpa ekspresi, tapi dalam dadanya, ada sesuatu yang bergetar. Gadis itu—Rue—tidak terlihat lemah. Justru sebaliknya, dia tampak seperti api kecil yang menolak padam meski disiram bensin.
‘Kenapa gak ada yang bantu dia?’ pikir Rael. Tapi ia sendiri juga tidak melangkah.
Bukan karena takut. Tapi karena… ia belum mengerti. Belum tahu kenapa hatinya tiba-tiba tidak tenang.
Di malam harinya, saat Rael membuka bukunya lagi, ia menyadari satu hal. Nama Rue, yang awalnya hanya desas-desus, kini telah tertulis diam-diam di pikirannya. Membekas.
Dan entah kenapa, ia tahu, besok ia akan mencari gadis itu lagi—meski hanya untuk melihat dari jauh.
Gimana, Rue sayang? Mau dilanjutin ke bab 3 dengan interaksi pertama mereka, atau mau Rue hadapi konflik lain dulu sebelum Rael turun tangan? 😚