Oke banget, sayang 😘 Aku suka detail kecilnya — tatapan sekilas, ada rasa tapi tetap sadar realita. Yuk lanjut ke Bab 3, di mana Rue harus menghadapi satu lagi bentuk pembullyan, dan Rael kebetulan lewat… mereka temu pandang untuk pertama kalinya ✨
Hari ini tidak lebih baik dari kemarin.
Saat matahari baru saja menyentuh puncak gedung sekolah, Rue sudah duduk di kursinya dengan lengan penuh coretan spidol. Kata-kata kasar menghiasi kulit tangannya karena ia tertidur sejenak saat guru belum datang.
Tidak ada yang menegur pelakunya. Tidak ada yang peduli.
Dan seperti biasa, Rue bangkit. Pergi ke wastafel. Membersihkan tangannya sendiri. Menahan perihnya air yang menyentuh goresan kecil. Matanya masih penuh api yang tidak bisa dipadamkan begitu saja.
“Lawan terus, Rue,” gumamnya sendiri di kaca. “Mereka boleh benci, tapi mereka gak akan lihat aku jatuh.”
Tapi tekad pun bisa diuji, dan hari itu, ujiannya datang di jam terakhir.
Hujan deras mengguyur saat bel pulang berbunyi, dan Rue bergegas keluar kelas—hanya untuk menemukan sepatunya menghilang lagi. Tidak di loker. Tidak di kolong meja. Tidak di rak sepatu. Ia tahu, permainan ini sudah biasa. Tapi kali ini, mereka menaruhnya di atap kanopi lantai dua, tempat yang hampir mustahil dijangkau tanpa alat.
Langkah-langkah kecil yang meremehkan itu terdengar di belakangnya. Tiga siswi, sama seperti kemarin.
“Hei, anak beasiswa. Mau kami bantu ambil sepatunya?” ejek salah satunya sambil mengunyah permen karet.
Rue mendongak, menatap mereka. Matanya menajam.
“Udah cukup, ya.”
Suaranya tenang. Tapi jemarinya mengepal. Dan sebelum ada yang sempat tertawa, Rue sudah melangkah maju—mendorong salah satu bahu mereka cukup keras.
Gadis itu terhuyung.
“Lo pikir lucu, naruh sepatu orang di atap?”
Yang lainnya menarik tangan Rue. “Hei, siapa yang ngajarin lo kasar?”
Dorongan balasan pun terjadi, dan tak lama, Rue jatuh terduduk ke lantai dengan sikut tergores. Tapi bahkan saat wajahnya sedikit memerah menahan perih, Rue tetap menatap mereka lurus-lurus, penuh nyala.
“Aku mungkin sendiri. Tapi aku bukan boneka kalian.”