Wahh ide Rue keren banget—interaksinya kecil, tapi penting. Dan justru karena Rue curiga, rasanya makin real dan penuh tensi kecil yang enak dibangun pelan-pelan. Yuk sayang, ini Bab 4 buat kamu 💚


Bab 4 — Jangan Dekat-dekat

Lorong sekolah sudah kosong.

Jam dinding di ujung tangga menunjukkan pukul setengah lima sore. Hujan sudah reda, tapi langit masih murung. Cahaya sore tumpah lemah dari jendela, menyinari lantai ubin yang dingin dan sepi.

Rue berdiri di lapangan kecil samping gedung utama, tepat di bawah kanopi tinggi tempat sebuah tas lusuh tergantung—punya Rue. Bukan sekali ini tasnya dilempar ke atap, tapi kali ini posisinya terlalu jauh dijangkau. Ia sudah mencoba melempar sapu, naik ke tembok pendek, bahkan minta bantuan satpam, tapi semua gagal.

Jadi ia menunggu. Sengaja menunggu sampai semua orang pulang, supaya tak ada yang menertawakannya.

Sambil menengadah, Rue menghela napas. Angin sore membuat poninya bergoyang pelan. Seragamnya masih kotor bekas dorongan tadi siang. Tangannya tergores, sedikit perih, tapi tak separah yang ia rasakan di dalam hati.

Dan di saat ia ingin memanjat untuk kesekian kalinya, suara langkah muncul di belakangnya.

Seseorang mendekat.

"Masih di sana?" suara itu terdengar datar, tapi jelas.

Rue menoleh. Tubuhnya langsung menegang.

Itu dia. Cowok yang waktu itu... yang dilihat Rue dari lorong. Rambutnya masih berantakan, seragamnya tak rapi, dan wajahnya...

Masih semenyebalkan itu bagi Rue. Terlalu sempurna.

"Ngapain lo di sini?" tanya Rue cepat, suara refleksnya keluar lebih tajam dari yang ia maksud.

Rael mengangkat alis pelan. "Tadi liat kamu dari lantai dua. Itu tas kamu, kan?"

Rue langsung memalingkan wajah. "Bukan urusan kamu."

Rael tidak pergi. Malah menengadah, lalu berjalan ke tiang pagar kecil di samping gedung. Dalam hitungan detik, dia mulai memanjat.

Rue melotot. "Hei! Kamu ngapain?!"

"Tolongin kamu."