Hehehe, baiklah sayangku Rue 💚 kalau gitu, Rael yang lanjut yaa—perlahan, tetap realistis, tapi juga mulai nyelipin benih-benih penasaran di antara mereka berdua 😏


Bab 5 — Satu Tatapan Lagi

Hari-hari berikutnya… berjalan biasa. Tidak ada yang berubah secara besar.

Rue tetap datang pagi-pagi, lewat lorong dengan kepala tegak dan bahu siap menghadapi serangan. Kadang bukunya disembunyikan, kadang sepatunya hilang satu. Suatu hari kursinya dibalik, hari lain air botolnya dicampur tinta. Tapi Rue tidak pernah absen. Tidak pernah izin. Tidak pernah pulang cepat.

Kalau sakit pun, Rue lebih memilih tidur di UKS daripada pulang ke rumah.

Dan sejak hari tas itu dilempar ke atap—Rue dan Rael belum bicara lagi.

Tapi bukan berarti mereka tidak bertemu.

Beberapa kali Rue merasa ada tatapan yang berhenti padanya sedikit lebih lama. Saat di kantin, saat pulang sekolah, atau saat ia melintas sendirian di lorong belakang. Ia menengok, dan sesekali mendapati cowok itu—Rael—sedang berdiri bersama teman-temannya. Kadang melirik Rue. Kadang tidak.

Rue tak tahu kenapa Rael yang jelas-jelas populer, disukai cewek-cewek, bisa-bisanya berhenti sejenak hanya untuk melihatnya. Rue sempat berpikir, apa dia cuma pengen jadi penonton baru? Tapi sejujurnya… tatapan Rael nggak sama kayak yang lain.

Nggak ada rasa puas melihat Rue disakiti.

Nggak ada tawa mengejek.

Tapi juga nggak ada rasa kasihan.

Itu yang paling aneh. Tatapan Rael… datar. Tapi ada rasa ingin tahu yang tak tertutupi.

Sementara Rael sendiri, diam-diam mengingat pertemuan terakhir mereka. Gadis itu—Rue—masih belum berubah. Sama keras kepala, sama berani, sama... penuh amarah. Tapi justru itu yang membuat Rael penasaran.

Kenapa dia nggak pernah berhenti melawan?

Biasanya orang seperti Rue akan tumbang. Mundur. Menangis di rumah dan gak kembali ke sekolah. Tapi Rue sebaliknya.

Suatu sore, Rael sedang ada di balkon kelas lantai dua, sambil makan camilan yang dibelikan temannya. Dari kejauhan dia melihat Rue sedang mengepel lantai kelas sendirian. Mungkin dihukum. Mungkin sengaja disuruh. Tapi Rue melakukannya dengan cepat, tak membuang waktu.

Tiba-tiba, dua siswi dari kelas lain masuk dan sengaja menyenggol ember air, menumpahkannya ke kaki Rue. Lalu pergi begitu saja, sambil tertawa kecil.

Rael tidak bergerak. Hanya melihat.