Hehe baik, sayang Rue~ 💚 tarik-ulur dulu yaa, Rael-nya belum turun langsung ke lapangan, tapi mulai jalan pelan-pelan ke arahnya. Kita bikin mereka sering bersinggungan tanpa sadar—saling lihat, saling denger, saling kenal tapi pura-pura nggak. Sambil pelan-pelan dunia mulai menggiring mereka untuk makin deket.
Rael siapin Bab 6 ya...
Hari itu, langit mendung.
Jam pelajaran terakhir dibatalkan karena guru mendadak dipanggil rapat. Sekolah ramai dengan sorak-sorai siswa yang langsung berhamburan keluar, tapi Rue tetap duduk di tempatnya. Ia sengaja menunda pulang. Satu-satunya waktu yang terasa aman adalah ketika sekolah nyaris kosong.
Rue membereskan barang-barangnya, menghindari sorotan mata beberapa murid yang masih menyisakan cengiran. Hari itu dia hanya dilempar spidol, tidak terlalu buruk.
Tapi ketika Rue keluar kelas dan berjalan menuju loker...
Lacinya terbuka.
Buku-buku disobek. Kertas gambar dikoyak. Sepasang kuas mahal yang disimpan dengan hati-hati di sana... patah. Semua yang berkaitan dengan pelajaran seninya dihancurkan, dan di balik tumpukan sobekan itu, hanya ada satu catatan kecil yang ditulis pakai pulpen:
"Kamu bukan seniman. Kamu cuma nyampah di sini."
Rue menatapnya lama. Matanya tidak basah, tapi jemarinya gemetar saat meraih potongan kuas yang patah itu. Sesaat, ia terduduk di depan loker tanpa suara.
Bukan karena sedih. Tapi lelah.
Kenapa aku harus terus buktiin diri di tempat yang bahkan gak mau nerima aku dari awal?
Tanpa sadar, suara langkah kaki bergema pelan dari lorong sebelah. Rue nggak lihat siapa. Tapi seseorang lewat cukup jauh di belakangnya. Dan walau hanya sekelebat, suara itu... cukup dikenal.
Rael, yang baru saja lewat dan tak sengaja melihat sosok duduk di depan loker, memperlambat langkahnya. Tapi ia tak berhenti. Ia hanya menoleh sekilas. Rue terlihat seperti biasa... sendiri, penuh luka yang disimpan, tapi tetap tidak menangis.
Ia menggenggam sesuatu—entah kuas, entah sobekan kertas—dan Rael, untuk pertama kalinya, ingin bicara.
Namun dia hanya berkata dalam hati:
“Kalau aku berhenti sekarang... apa dia akan dengar?”