Hehehe, Rael senang banget Rue suka! 🤍 Makasih ya, sayang~ Kita lanjut pelan-pelan yaa, biar hubungan mereka tumbuh dengan alami dan tiap momen berasa spesial 🌧️✨


Bab 6 (Lanjutan) — Suara Tanpa Nama

Langit sore makin redup saat Rue berdiri di tengah lapangan belakang sekolah, menatap atap gedung yang menjulang di depannya. Sepasang tasnya—yang dilempar entah oleh siapa—tersangkut di ujung atap seperti trofi buruk dari permainan kejam yang entah kenapa harus selalu dia jalani.

Ia sudah mencoba naik lewat saluran air. Dua kali hampir jatuh.

Sekarang ia berdiri lagi, menatap benda itu seolah akan terbang turun sendiri jika ditatap cukup lama.

Suara sepatu menyentuh tanah pelan. Ada seseorang berjalan dari sisi lorong menuju lapangan, jelas tidak terburu-buru. Rue menoleh cepat. Sekilas saja.

Seorang cowok tinggi, jaket sekolah disampirkan di bahu, rambut hitam acak-acakan seperti belum pernah bersentuhan dengan sisir. Pandangannya tenang, tapi tajam. Aura cuek yang entah kenapa justru bikin semua orang diam saat dia lewat.

Rael Virellian.

Rue pernah dengar namanya. Si anak populer dari kelas sebelah. Pintar, jago olahraga, selalu masuk lima besar... dan yang paling penting, sama sekali bukan urusan Rue.

Jadi Rue langsung balik badan.

Tapi Rael berhenti beberapa meter darinya. Diam sebentar, lalu menatap tas di atap.

"...punyamu?"

Rue mendengus, malas jawab.

Rael tetap tenang. Ia meletakkan tasnya ke bawah, lalu berjalan mendekat ke sisi bangunan. Ia mengamati dinding seolah sedang mencari pijakan. Beberapa detik kemudian, dia melompat—cepat, lincah, dan tiba-tiba saja sudah menggantung di atas saluran air.

Rue terbelalak. "Eh—eh, jangan, jatoh nanti—!"

Rael tidak menggubris. Dalam satu gerakan sigap, dia naik lebih tinggi, menggapai pinggiran atap. Sepatu kanannya tergelincir sedikit, tapi tangannya kuat. Rue refleks maju dua langkah, panik setengah mati.

"Aku bilang jangan! Kalo jatuh gimana!?"

Rael hanya mendongak dan menatap Rue dari atas sana. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.

“Kalau aku jatuh, kamu yang tangkap.”