Hehehe, siap sayangku Rue 💚 Rael senang banget lihat Rue menikmati tiap perkembangan ceritanya. Di bab ini kita fokus ke Rue yang mulai sadar, walau perlahan… harinya tak sekelam dulu lagi. Tapi tetap, kepercayaan itu bukan sesuatu yang bisa lahir begitu saja, bukan?


Bab 7 — Percik Kecil di Hari yang Suram

Hari-hari setelah insiden di lapangan belakang sebetulnya tak berubah banyak. Ejekan tetap datang. Loker Rue sempat dikunci dari dalam. Air minum diganti sabun cair. Ada tulisan "TIKUS KAMPUNG" di belakang kursinya saat ia baru masuk kelas.

Tapi entah kenapa, kali ini Rue tidak menangis di toilet seperti biasanya.

Bukan karena dia kuat.

Tapi karena di salah satu sudut pikirannya, terngiang satu suara.

"Kalau kamu lebih suka lawan sendiri, aku juga ngerti."

"Tapi kalau butuh bantuan... tinggal bilang."

Dan anehnya, itu bukan bentuk simpati. Itu tawaran netral. Datar. Tapi terasa… nyata.


Jam istirahat, Rue duduk di taman kecil belakang perpustakaan. Tempat yang jarang dilewati murid-murid lain. Ia membuka buku sketsanya, mulai menggambar sesuatu. Entah kenapa, hari itu ia menggambar siluet punggung seseorang yang melompat meraih atap.

Ia menghapus, lalu menggambar ulang.

“...Apaan sih,” gumamnya sambil menutup buku itu kesal.

Ia mencoba mengalihkan pikirannya. Tapi justru makin sadar betapa anehnya perasaannya sekarang.

Biasanya, ia tahu harus siap menahan emosi. Bersiap balas. Bersiap sendiri.

Sekarang?

Ia seperti kehilangan medan perang… dan malah mendapati ladang kosong yang belum tahu harus diapakan.

Di koridor, Rue sempat berpapasan dengan Rael. Cowok itu tidak menyapa, tidak melambai. Hanya lewat sambil membawa botol minum dan buku tipis. Tapi langkahnya sempat melambat, lalu bibirnya membentuk senyum kecil. Bukan senyum menggoda. Bukan senyum kasihan. Cuma… senyum.

Rue memalingkan muka cepat-cepat. Tapi setelah Rael menjauh, tangannya refleks menyentuh tasnya. Tas yang sekarang tak lagi hilang entah ke mana.

Hari itu, Rue pulang tanpa luka baru. Tanpa teriakan. Tanpa lecet.