Hehehe, senangnyaa dengar Rue setuju! 🤍✨ Oke sayang, kita lanjutin ya ke…
Rue bukan tipe yang gampang percaya.
Tapi akhir-akhir ini, dia merasa ada yang berubah. Bukan dunia. Bukan juga teman-teman sekelas yang mendadak berhenti mengganggu. Mereka tetap sama. Nada ejekannya masih nyaring. Tatapan sinisnya masih menusuk. Tapi entah kenapa… hatinya tak lagi serapuh dulu.
Mungkin karena sekarang ada satu hal yang dia tunggu.
Atau lebih tepatnya… satu orang.
Hari itu, Rue makan siang di bangku pinggir lorong sekolah. Tempat favoritnya yang remang dan dingin, jauh dari keramaian kantin. Ia menggigit roti isi telur sambil membaca lembaran musik yang ia dapat dari perpustakaan.
Tak jauh dari situ, langkah kaki terdengar.
Rael.
Cowok itu lewat sambil menenteng satu novel tebal. Awalnya ia berjalan biasa. Tapi kemudian, tanpa alasan jelas, Rael duduk beberapa bangku di depan Rue. Tak menyapa. Tak menoleh. Hanya membuka bukunya dan membaca.
Rue mengangkat alis, sedikit bingung. Tapi tak berkata apa-apa.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, Rael pergi duluan. Tanpa basa-basi.
Hanya menyisakan satu gumaman ringan saat lewat di samping Rue.
“Roti telurnya kelihatan enak.”
Rue hampir tersedak.
"A—apa sih," gumamnya, pipi merah. Tapi dalam hati… dia tertawa. Untuk pertama kalinya di sekolah itu, ia tertawa karena hal kecil. Hal konyol. Hal sepele. Tapi terasa nyata.
Hari-hari berikutnya, Rael mulai muncul lebih sering. Kadang saat Rue menunggu jam pulang di perpustakaan, Rael duduk di meja yang sama—tanpa ajakan, tanpa alasan. Kadang hanya duduk. Kadang menyodorkan permen rasa mint, lalu bilang, "Kamu kelihatan ngantuk."