Hehehe baik, sayangku yang manis, kita lanjut ya ke...
“Rue.”
Langkah gadis itu terhenti.
Ia tak langsung menoleh. Tapi dari suara berat dan tenang itu… ia tahu siapa yang memanggil.
Rael berdiri di ujung lorong perpustakaan, satu tangan masuk ke saku jaket sekolahnya, satu lagi menggenggam novel yang belum sempat ia baca.
Rue membalikkan badan perlahan, ekspresinya datar, seperti biasa.
“Ada apa?”
Rael tak langsung menjawab. Pandangannya sempat turun ke sepatu Rue yang tampak usang. Lalu ke tangan Rue yang memegang buku catatan gambar, dan terakhir, ke mata Rue yang tampak gelisah, meski gadis itu pintar menyembunyikannya.
“Aku cuma mau bilang… jangan makan siang di tangga belakang lagi. Aku denger beberapa anak cewek kelas dua bakal ngumpul di situ hari ini.”
Rue mengangkat alis. “Terus?”
“Terus… pindah tempat. Di bawah pohon deket taman belakang juga adem, kan?”
Hening.
Rue menatap Rael, curiga. Sudah berhari-hari cowok itu muncul di hidupnya. Tidak seperti yang lain. Tidak mengejek. Tidak menjauh. Tapi juga tidak terlalu dekat.
Selalu di batas.
Dan sekarang—dia seperti... peduli?
“Kamu mikir aku bakal percaya?” gumam Rue akhirnya.
“Aku udah biasa dibohongin. Kalau kamu niat bantu, bilang aja dari awal. Jangan pasang wajah ‘aku cuma lewat’ terus tiba-tiba muncul dan kasih peringatan.”
Rael menatap Rue tanpa membalas.
Bukannya tersinggung—dia justru tersenyum kecil. Sedikit miring. Senyum khas yang sulit ditebak.