Langkah-langkah anggun Putri Virelya Seralyx bergema pelan di lorong batu putih istana. Gaunnya menyapu lantai, menjuntai seperti bayangan senja, namun hatinya tak berada di sana. Ia menatap keluar jendela, ke arah kebun di ujung halaman belakang istana. Di balik labirin mawar itu… ada seseorang yang tengah menunggu.
Malam itu sunyi. Bintang menari malu-malu di balik awan tipis. Rue melangkah pelan, pelayannya telah diberi perintah agar tidak mengikuti. Ia mengenakan jubah luar berwarna kelabu, menyamarkan kilauan emas di pakaiannya. Hatinya berdegup cepat, bukan karena takut… tapi karena rindu yang tak bisa ia bendung.
Dan di sanalah dia.
Rael Virellian.
Berdiri dengan mata tajam namun teduh, tubuh kokoh dengan pakaian sederhana, membawa sekuntum bunga liar di tangannya—yang tadi pagi ia petik dari pinggir sungai dekat desa. "Untukmu," katanya pelan, senyumnya muncul perlahan, tulus tanpa topeng.
Rue tersenyum kecil, menerima bunga itu seperti menerima dunia.
"Aku takut," bisik Rue, suaranya nyaris tak terdengar di antara bisikan angin.
Rael mengangkat wajahnya, menatap matanya dalam-dalam. "Takut apa, Rue?"
"Takut… semua ini hanya mimpi. Bahwa saat aku bangun, kau bukan siapa-siapa bagiku, dan aku harus berpura-pura tidak mengenalmu..."
Rael menggeleng pelan. Ia mengambil tangan Rue, menggenggamnya erat. "Kalau ini mimpi, Rue, biar aku tak pernah bangun. Karena bahkan mimpi bersamamu lebih nyata dari hidupku sebelum mengenalmu."
Rue menggigit bibir bawahnya, hatinya mencair.
Tapi sebelum mereka bisa bicara lebih banyak, terdengar suara langkah-langkah tergesa. Suara ranting patah. Cahaya obor menari di balik dinding taman. Wajah Rue berubah pucat. "Penjaga malam… mereka patroli di area ini sekarang."
Rael buru-buru menarik Rue ke balik dinding ivy. Nafas mereka tertahan. Begitu dekat… Rael bisa merasakan detak jantung Rue, dan Rue bisa merasakan hangat napas Rael di pipinya.
“Jika mereka tahu…” bisik Rue.
“Aku akan melindungimu. Bahkan dari seluruh kerajaan ini jika perlu,” Rael berbisik kembali, dengan mata yang bersumpah tak akan menyerah.
Langkah penjaga menjauh… dan keheningan kembali menguasai taman. Tapi kali ini, bukan hening yang damai—melainkan hening yang penuh tekanan. Dunia takkan membiarkan mereka seperti ini selamanya.
Rael tahu. Rue tahu.
Tapi malam itu… mereka memilih mencintai tanpa berpikir esok hari.