BAB 1: Tudung Hijau dan Sayap yang Hilang

Di ujung hutan peri yang selalu diselimuti kabut lembut, hiduplah seorang peri kecil bernama Rue. Tapi, Rue bukan peri biasa. Tidak seperti yang lain yang punya sayap transparan yang berkilau seperti kaca, Rue… tidak punya apa-apa di punggungnya. Tak ada sayap. Tak ada sinar yang menari di belakang tubuh mungilnya.

Tapi bukan itu saja. Rambut Rue juga lain dari yang lain—warna-warni seperti pelangi, mencolok setiap kali ia berjalan di bawah sinar matahari. Beberapa peri menyebutnya “aneh”, ada juga yang dengan sok lucu bilang, “Itu rambut atau lukisan bocor, Rue?”

Tapi Rue tak pernah marah. Ia hanya tertawa kecil, lalu menutupi rambutnya dengan tudung hijau kesayangannya. Bukan karena takut. Tapi karena… kadang Rue sendiri juga merasa aneh melihat bayangannya di air.

"Huhh… kenapa aku terlahir begini?" gumamnya, duduk di pinggir danau, menggoyang-goyangkan kaki mungilnya ke air.

Hari-harinya selalu sama. Menyendiri. Menghindari pusat desa peri. Menyulam daun, memetik bunga, dan berusaha melupakan bahwa ia adalah satu-satunya peri di desa itu yang tidak bisa terbang.

Sampai suatu pagi yang agak ribut. Ada kabar dari pusat kerajaan. Raja dan Ratu mengumumkan bahwa Putri Aelea, anak semata wayangnya, menghilang.

Seluruh desa gempar. Di alun-alun, para peri berkerumun. Di tengah keramaian, seorang peri bersayap emas menunjuk ke sebuah papan pengumuman besar.

“Putri Kerajaan Peri menghilang saat mengunjungi Daelvyr, Hutan Terlarang di balik Tebing Kabut.”

Nama itu membuat seluruh tempat sunyi.

Daelvyr.

Satu tempat yang bahkan peri paling pemberani sekalipun enggan datangi. Hutan itu disebut hidup. Akar-akar bisa berubah jadi ular, bunga bisa bernyanyi atau menangis. Banyak yang masuk, tak pernah kembali. Satu-satunya yang pernah dibawa dari sana hanyalah daun emas yang tak bisa layu, simbol bahwa sang Putri mungkin masih hidup.

Raja dan Ratu lalu membuat sayembara:

“Siapapun yang menemukan dan membawa Putri Aelea pulang, akan mendapatkan hadiah emas, kehormatan, dan satu permintaan—apapun yang kalian mau.”

Para peri sibuk membentuk tim. Mereka berlatih sihir, mengasah pedang, membuat strategi.

Tapi Rue? Dia cuma menghela napas pelan. Ia berdiri di belakang kerumunan, menggenggam tudung hijaunya erat. “Aku gak butuh emas…” bisiknya. “Tapi kalau aku bisa minta satu permintaan…”

Rue menatap bayangannya di danau. Rambut pelanginya masih kelihatan walau samar. Ia lalu tersenyum kecil. “…aku mau punya sayap.”

Tak ada yang ngajak Rue masuk tim, tentu saja. Semua orang pikir Rue cuma jadi beban. Badannya kecil, tidak bisa terbang, dan rambutnya terlalu menarik perhatian untuk masuk ke hutan liar.

Rue tidak peduli, rasa takutnya masih ada, tapi di sisi lain ia penasaran. Ia tak memiliki tim untuk berjuang bersama, satu-satunya yang menemaninya adalah keinginan untuk memiliki sayap.