Bab 8: Kalimat yang Tak Seharusnya Didengar

Hari itu sekolah lebih sepi dari biasanya. Entah kenapa, angin sore berhembus lebih pelan dan berat dari biasanya.

Rael lagi duduk sendiri di belakang sekolah, di bangku kayu yang udah mulai usang. Di tangannya, ada daun kecil yang dia putar-putar sambil dengerin bisikan lembut dari angin. “Dia udah dateng…”

Suara itu terdengar pelan. Bukan dari manusia. Tapi Rael langsung ngerti. Dia noleh ke samping. Liora berdiri di sana, masih dengan senyum yang tenang tapi matanya beda. Lebih… gelisah.

“Boleh ikut aku bentar?” tanya Liora.

Rael diem sebentar, lalu berdiri. “Kemana?”

“Tempat di mana semua jawaban disimpan.”


Mereka jalan pelan ke arah hutan kecil di balik sekolah. Gak ada yang ngomong, cuma suara ranting dan langkah kaki di tanah.

Akhirnya mereka berhenti di sebuah pohon besar. Liora berdiri di depannya, narik napas panjang.

“Rael…” katanya, pelan banget. “Ini rahasia, sebenernya aku bukan murid biasa.”

Rael noleh.

“Aku dikirim ke dunia manusia buat satu tujuan. Roh pelindung alam milih aku buat menjaga keseimbangan. Tapi aku gak bisa ngelakuinnya sendiri…”

Liora ngeliat Rael, matanya jernih tapi berat.

“…karena kuncinya itu kamu.”

Rael diem. Tapi gak kaget. Seolah hatinya udah siap.

“Kita harus pergi,” lanjut Liora. “Ke tempat yang cuma bisa didatengin sama orang-orang yang terikat sama alam. Ada kerusakan yang harus kita benahi sebelum semuanya terlambat.”

“Berapa lama?”

“Sebulan.”