✨ Bab 11: Setelah Lupa, Sebelum Hilang
Satu bulan kemudian.
Matahari nggak lagi sekadar panas. Sekarang dia hangat—kayak peluk dari jauh. Angin nggak lagi sembarangan berhembus. Dia lebih lembut, lebih sabar, lebih ringan seolah tahu siapa yang perlu digenggam.
Burung-burung yang dulu jarang terlihat, mulai berani muncul di sekitar sekolah. Tanaman di taman belakang yang tadinya gersang, sekarang tumbuh liar dengan warna yang nggak biasa. Langit lebih bersih. Udara lebih segar. Alam... bahagia.
Tapi Rue nggak.
Dia duduk sendirian di kursi biasa mereka, di belakang sekolah. Tangannya mainin batu kecil.
Senyumnya... kosong. Karena Rael belum dateng. Karena Rael udah balik. Tapi Rue harus siap ketemu Rael yang gak lagi kenal dia.
Beberapa jam sebelumnya, di gerbang sekolah—
Rael turun dari mobil hitam. Rambutnya sedikit lebih panjang. Mata sedikit lebih tenang.
Beberapa temen langsung nyamperin. “Woii Rael! Kemana aja lo sebulan?! Lo kabur ke dunia mana?!”
Rael senyum kecil. “Healing dikit lah. Capek jadi orang keren tiap hari.” ya, yang Rael ingat hanya dirinya yang berlibur selama sebulan.
“Pantesan alam tiba-tiba sehat, lo ilang, matahari lebih ramah…” celetuk temennya sambil ketawa.
Rael cuma ketawa dikit. Tapi matanya kayak nyari sebuah wujud. Hatinya mencari sesuatu. Atau... seseorang. Tapi dia gak tau siapa.
Sampai akhirnya sore datang. Langit mulai jingga. Rue masih duduk di bangku belakang sekolah. Matanya udah capek nunggu. Tapi dia masih di sana. Karena dia gak mau nyerah.
Langkah kaki pelan terdengar. Rue gak berani nengok. Tapi dia tau itu Rael.
Rael berdiri beberapa meter dari Rue. Tangannya masuk ke saku, pandangannya ragu. “…Maaf. Ini tempat duduk lo ya?” tanya Rael pelan.