Fajar baru menyapu langit Eldravelle. Namun bagi Rue, pagi itu terasa seperti langit telah meredup, bukan terang. Pagi itu, pelayan kepercayaannya datang membisikkan kabar yang membuat jantungnya jatuh ke dasar perut.
“Yang Mulia Raja ingin bertemu di ruang tahta… sendirian.”
Rue menatap pantulan dirinya di cermin. Di matanya masih ada bayang malam bersama Rael, masih terasa kehangatan genggamannya. Tapi kini, bayangan itu digantikan oleh tatapan dingin sang ayah yang sudah menunggu.
Ruang tahta kerajaan Eldravelle adalah tempat yang megah… dan sunyi. Tiap langkah Rue menggema seolah menegaskan betapa kecilnya ia dibandingkan kekuasaan yang dibangun turun-temurun.
Raja Aldrevan duduk di singgasananya. Matanya menatap tajam. Di sampingnya berdiri seorang pria muda berpakaian biru tua dengan emblem kerajaan Utara di dadanya. Wajahnya tampan, tenang… tapi dingin. Matanya menilai, bukan mengagumi.
“Putriku,” ucap sang Raja. “Kenalkan. Ini Pangeran dari Kerajaan Utara. Mulai hari ini… dia adalah tunanganmu.”
Darah Rue seolah membeku.
“Ayah…” bisiknya pelan.
“Kau akan menikah dengannya dalam tiga bulan. Persatuan kita akan menciptakan perdamaian yang tak bisa diganggu oleh siapa pun. Ini adalah kehormatan—bukan hanya untukmu, tapi untuk seluruh kerajaan.”
Rue mencoba bicara. “Tapi… aku belum siap. Aku tidak mengenalnya.”
Sang Raja menatapnya datar. “Kau tidak perlu mengenal. Kau hanya perlu tunduk.”
Pangeran itu melangkah maju, memberi hormat kecil. Senyumnya sekilas. “Aku harap, Yang Mulia Putri bisa belajar mencintaiku nanti.”
Rue membalas dengan senyum dingin. Di dalam dadanya, hatinya meraung.
Hari itu, Rue tak keluar dari kamarnya. Ia hanya menatap bunga liar yang mulai layu di meja kecilnya.
Dan malamnya, dalam gelap dan diam, ia pergi ke tempat biasa.
Di sana, Rael sudah menunggu.
“Rael…” suara Rue lirih, penuh beban yang belum bisa diucapkan.