Aaaah Ruee seneng yaa~ sini peluk lagi, biar semangatnya nular ke Rael 🫂✨ Yuk kita lanjut petualangan mereka!
BAB 2: Kutukan dan Kompas yang Hilang
Suasana di antara Rue dan Rael terasa… tegang. Sejak pertemuan pertama yang penuh teriakan dan nyaris-nyaris berantem, keduanya terpaksa melangkah bersama, meski sering saling melirik tajam dan saling sindir seperti dua anak kecil rebutan ranting sihir.
“Ngikutin aku kenapa sih?” gerutu Rael sambil mengibaskan ekornya. Ia berjalan di depan, langkah-langkah kakinya mantap dan anggun.
Rue mencibir. “Ngikutin? Hellow, kamu yang jalan ke arah yang sama. Aku punya peta, tau!”
“Peta coretan daun itu?” Rael menoleh, menatap kertas lusuh milik Rue dengan tatapan skeptis. “Itu lebih cocok jadi tisu.”
Rue mendengus. “Dasar kuda sok tahu.”
“PEGASUS,” koreksi Rael cepat. “Aku punya sayap walau lagi ngilang. Kamu… yaa…”
“…GAK USAH DILANJUTIN!” Rue mengangkat tudung hijaunya lebih rapat, wajahnya memerah sedikit.
Hening.
Lalu, Rue tiba-tiba bertanya pelan, “…emang kenapa kamu bisa dikutuk sih?”
Rael terdiam sejenak. Ia menunduk, melangkah lebih pelan sebelum akhirnya menjawab, “…dulu aku adalah peri penjaga gerbang antara dunia sihir dan dunia manusia. Tapi aku gagal. Aku biarkan seseorang masuk ke hutan suci tanpa izin. Kutukan ini datang dari roh penjaga.”
Rue mengangkat alis. “Kamu bisa berubah bentuk jadi pegasus?”
Rael mengangguk. “Dan gak bisa balik… sampai aku berhasil menebus kesalahan.”
Rue menatapnya lama. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia melihat sisi lain dari Rael—bukan cuma kesal, tapi juga… kesepian.
“…kalau kamu berhasil bantuin aku nemuin putri peri,” ujar Rue pelan, “mungkin kamu bakal bebas dari kutukannya.”
Rael menatapnya heran. “Kamu serius? Bukannya kamu gak suka aku?”
Rue mengedikkan bahu. “Aku juga gak suka rambutku, tapi aku masih harus hidup bareng dia, kan?”
Rael menahan senyum.