Bab 3 – Janji yang Tak Bisa Dijaga

Malam ketiga setelah pengumuman pertunangan itu, Eldravelle dihujani kabut tipis. Rasa dingin menyusup sampai ke tulang, seolah langit pun ikut meratapi nasib dua hati yang tak boleh bersatu.

Di antara bisik pepohonan dan suara ranting jatuh, Rue kembali datang ke taman rahasia. Tapi kali ini, langkahnya lebih berat. Di tangannya… tidak ada lagi bunga. Di wajahnya, tidak ada lagi senyum. Hanya mata yang basah, dan dada yang sesak.

Rael menunggu di bawah pohon cypress, tempat di mana mereka biasa bertemu. Begitu melihat Rue, ia segera mendekat—tapi langkah Rue menghentikannya.

“Aku tidak bisa terus seperti ini, Rael…” suara Rue gemetar, tapi bukan karena dingin.

Rael menatapnya, penuh luka. “Kau… akan menikah dengannya?”

Rue tidak menjawab. Ia hanya menunduk, mengangguk pelan.

Keheningan jatuh di antara mereka seperti gemuruh petir yang tidak terdengar.

“Aku akan melarikanmu malam itu juga,” ucap Rael akhirnya, penuh tekad. “Aku tidak peduli dengan hukum, tidak peduli dengan darah bangsawan, tidak peduli pada takhtamu atau singgasanamu. Aku hanya peduli padamu, Rue. Kita bisa pergi ke perbatasan. Ke hutan timur. Kita bisa hidup sebagai orang biasa. Aku bisa melindungimu.”

Rue memejamkan mata. “Aku ingin… lebih dari apapun, aku ingin. Tapi…”

“Tapi…?”

Rue membuka matanya—dan Rael melihat ketakutan di dalamnya.

“Kalau aku pergi… akan ada perang. Ayahku tidak akan membiarkan kau hidup. Kerajaan Utara akan menganggap ini penghinaan. Rakyat akan hancur. Semuanya akan runtuh… karena cinta kita.”

Rael mencengkeram tangan Rue, matanya berkaca. “Lalu apa yang kita lakukan, Rue? Apakah kita menyerah?”

Rue menggeleng, air matanya jatuh. “Tidak… kita berjanji. Janji bahwa kita akan mencintai… meski dunia memisahkan. Cintaku padamu tidak akan pernah padam, Rael. Tidak di hari pernikahanku… tidak di malam pertamaku… bahkan tidak di akhir hayatku.”

Rael menunduk, mencium tangan Rue dengan penuh hormat. "Kalau begitu, aku akan tetap mencintaimu... diam-diam, dalam gelap, di antara napas yang tidak pernah bisa mengucapkan namamu lagi."

Dan malam itu, mereka berpelukan untuk terakhir kalinya…

Tak ada kata perpisahan.

Karena bagaimana mungkin dua hati bisa mengucap selamat tinggal… saat mereka tidak pernah benar-benar ingin berpisah?