(Sudut pandang Rael)
Setelah Rue pergi, suasana di taman balik lagi jadi tenang. Tapi tenang yang aneh. Kayak... ada suara yang hilang.
Gue masih duduk di tempat yang sama. Tangan gue ngerasa dingin dari gelas kopi yang Rue kasih. Manis banget. Kayak terlalu manis buat kopi... atau mungkin itu karena gue ngerasa bersalah.
Gue ngelirik sedikit ke arah tempat dia tadi duduk. Rumputnya agak rebah.
"Rael?"
Suara lembut itu datang dari belakang gue.
Gue noleh. Liora. Dia bawa dua buku pelajaran, rambutnya agak berantakan tertiup angin. Tapi seperti biasa, auranya tuh... adem. Natural banget.
"Kamu nggak balik ke kelas?" tanyanya.
Gue geleng. “Nanti. Lagi nyari jawaban dari angin.”
Dia ketawa kecil. “Kadang aku iri deh... kamu bisa denger hal yang orang lain nggak bisa.”
Iya, Liora udah tau rahasia kecil gue karna entah gimana gue ngarasa aman dan nyaman ngobrolin kemampuan gue ke dia.
Gue nyengir dikit. “Kadang gue juga pengen bisa... gak denger apa-apa.”
Dia duduk di sebelah gue. Jaraknya gak jauh, tapi gak sedeket Rue tadi. Liora selalu jaga jarak. Elegan. Rapi.
"Menurut kamu..." dia mulai lagi, matanya mandang pohon di depan. "Apa yang bikin seseorang bisa deket sama kamu?"
Pertanyaan itu aneh. Tapi Liora memang kadang suka ngomong gitu. Kayak lagi mikir keras, tapi suaranya pelan.
Gue mikir sebentar. Terus jawab, “Yang gak maksa, tapi tetap tinggal.”
Dia senyum. “Bagus ya... itu. Kayak... hujan yang datang diam-diam.”