Siap, Rue sayang! 💚 Kita lanjut ke Bab 3 – Labirin Akar Raksasa~
Bab 3 – Labirin Akar Raksasa
Langkah kaki Rue terhenti saat rerumputan lembut berganti dengan tanah keras penuh belukar. Di depannya terbentang labirin besar dari akar-akar raksasa yang menyembul dari bawah tanah, melingkar-lingkar seperti ular tidur. Akar itu bergerak… pelan, nyaris tak terlihat, tapi Rue yakin mereka hidup.
"Ini dia… tempat pertama yang harus kita lewati," gumam Rue, menggenggam erat tudung hijaunya. Rael—pegasus hitam gagah yang menemaninya sejak kejadian panah nyasar itu—menatap labirin dengan sorot curiga.
"Aku benci tempat ini," kata Rael, telinganya menekuk ke belakang. "Akar-akar ini menyerap pikiran, menyesatkan arah. Kita harus hati-hati."
Rue menelan ludah. "Yaudah, ayo masuk. Semakin cepat semakin baik…"
Mereka melangkah masuk.
Awalnya, hanya hening. Tapi beberapa menit kemudian, bisikan-bisikan aneh mulai terdengar.
"Rue… Rue…"
"Kau sendirian, lagi-lagi sendiri…"
"Apa gunanya berjalan? Kau bahkan bukan peri sungguhan… tanpa sayap, tanpa arah…"
Rue berhenti, matanya mulai berkaca. Suara-suara itu… terdengar seperti suara hatinya sendiri. Pikiran yang selalu ia sembunyikan. Ketakutan yang selalu ia tutupi dengan canda.
Rael menghentak tanah dengan kukunya. “Rue! Fokus. Jangan dengerin mereka. Itu cuma trik akar.”
Rue menggeleng cepat. “Aku... aku baik-baik aja.” Tapi langkahnya mulai goyah.
Rael akhirnya bergerak cepat, menyodok bahu Rue dengan lembut. "Naik ke punggungku. Kita terbang rendah lewat lorong-lorong akar. Aku masih bisa lihat jalan keluar dari udara."
Rue ragu. "Aku… gak biasa naik makhluk seperti kamu… dan… aku berat tau."
Rael mendengus. "Kau ringan seperti keluhanmu yang terus-terusan."
“Heh!” Rue spontan tertawa kecil, tapi matanya masih sembap. Ia akhirnya melompat naik. “Awas ya kalo aku jatuh.”
Rael mengepakkan sayap gelapnya dan membawa mereka melayang rendah, menghindari jebakan akar yang mencoba meraih. Bisikan-bisikan semakin keras, tapi Rael terus bersuara. Ia ceritakan hal-hal acak: jenis-jenis rumput favoritnya, kenangan saat jadi peri dulu yang suka terbang menabrak awan, hingga lelucon buruk soal jamur yang suka curhat.