Hari-hari berlalu cepat sejak malam terakhir di taman rahasia itu.
Di istana, Rue hidup seperti bayangan dari dirinya sendiri. Setiap senyum yang ia tunjukkan hanyalah topeng. Gaun pengantin yang kini sedang dijahit oleh para perajin istana, terasa seperti jubah duka yang makin hari makin mengunci jiwanya.
Sementara itu, di desa, Rael tak lagi menempa besi. Ia mulai menghilang dari pandangan warga. Mereka bilang ia sering pergi ke hutan, menghindar dari mata-mata kerajaan. Tapi di balik diamnya, Rael menyiapkan sesuatu—rencana gila untuk membawa Rue keluar dari sangkar emas itu.
Malam sebelum pesta pertunangan, Rue menerima sepucuk surat kecil—diselipkan lewat jendela kamarnya oleh burung kecil milik Rael.
*“Satu malam sebelum pernikahanmu. Di gerbang utara, saat bulan menggantung tinggi. Jika kau datang, kita akan pergi. Jika tidak… aku akan menghilang selamanya.”
—Rael”*
Rue menggenggam surat itu dengan tangan gemetar. Jiwanya terbakar antara harapan… dan kewajiban.
Malam itu datang.
Istana dipenuhi lentera dan musik. Rakyat berkumpul, bersorak untuk pesta pertunangan yang akan digelar esok.
Tapi Rue… diam-diam menyelinap ke luar kamarnya. Ia mengenakan jubah gelap, menyembunyikan gaun bangsawannya. Jantungnya berdebar keras. Setiap langkah menuju gerbang utara terasa seperti mengkhianati seluruh hidupnya—tapi juga seperti satu-satunya jalan untuk bisa hidup sepenuhnya.
Dan di sana, di bawah cahaya bulan, Rael berdiri menunggunya. Matanya berkaca saat melihat Rue benar-benar datang.
"Rue..." bisiknya. "Kau datang..."
Rue memeluknya erat, hampir tak percaya mereka bisa bersatu lagi.
“Kita harus cepat. Aku punya kuda, dan—”
Tapi suara siulan tajam menghentikan langkah mereka.
Dari balik semak, sekelompok prajurit kerajaan muncul, lengkap dengan tombak dan panah. Dan di tengah mereka, berdiri seseorang...
Pangeran dari kerajaan Utara.
Dengan mata dingin, ia menatap Rue. “Aku tahu kau akan lari. Dan aku tahu siapa penyebabnya.”