Hehe, manis banget kamu, Rue sayang 💚
Yuk kita lanjut ke…
Setelah melewati Labirin Akar Raksasa, Rue dan Rael sampai di tepian hutan yang berbeda dari tempat manapun yang pernah mereka lewati. Pepohonan di sana tumbuh menghadap ke bawah—ranting dan daunnya menggantung dari langit, sementara akarnya justru mencuat dari tanah seperti tanduk-tanduk bengkok. Udara terasa aneh. Sunyi, tapi penuh pantulan.
“Apa ini... langitnya cermin?” bisik Rue.
Rael mengangguk pelan. “Ini Hutan Cermin Terbalik. Setiap langkah di sini bisa memperlihatkan... sisi lain dari dirimu. Kadang mimpi. Kadang ketakutan.”
Rue menatap cermin-cermin besar yang tumbuh dari tanah seperti jamur kristal. Di dalamnya, ia bisa melihat dirinya—tapi bukan dirinya yang sekarang. Ia melihat versi dirinya yang bersayap indah dan rambutnya bersinar terang tanpa tudung hijau. Peri-peri di sekitarnya memandang dengan kagum.
Rue terdiam.
Rael mendekat. “Itu bukan tipuan. Itu... apa yang hatimu inginkan.”
Rue tersenyum kecil, tapi pahit. “Tapi itu gak nyata, Rael. Nyatanya, aku peri yang gak bisa terbang dan selalu pakai tudung karena gak suka rambutku sendiri.”
Rael meliriknya, kemudian menatap pantulan dirinya sendiri. Di dalam cermin, ia melihat dirinya sebagai peri tampan berpakaian putih kehijauan, bersayap kuat dan bermata tenang. Tapi... ada luka di hatinya, bahkan di versi yang paling sempurna.
“Mungkin itu sebabnya kita dikutuk. Karena gak bisa menerima diri sendiri,” gumam Rael. “Mungkin juga karena kita terlalu keras pada diri sendiri.”
Mereka berjalan lebih dalam, dan suara tawa tiba-tiba terdengar. Cermin-cermin mulai bergetar dan bergerak, menyusun lorong seperti labirin, namun pantulannya aneh—Rue melihat dirinya tertawa jahat, Rael melihat dirinya meninggalkan Rue.
“Ini... jebakan pikiran,” kata Rael tajam. “Kita harus pisah sebentar. Temukan ‘cermin tak bersuara’. Itu satu-satunya jalan keluar.”
Rue mengangguk ragu. “Pisah? Tapi kalau—”
Rael menyenggol bahunya pelan. “Kamu bisa. Kamu paling keras kepala yang pernah aku temui.”
“Heh! Kamu juga.”
Dan mereka berpencar.
Rue berlari melewati lorong-lorong pantulan, diikuti versi dirinya yang mengejek dan menangis. Tapi ia terus maju. Hingga akhirnya, ia menemukan satu cermin berbeda—tidak bersinar, tidak bergelombang. Diam.