Panah itu melesat, cepat seperti kilat…
Tapi Rael lebih cepat. Ia menarik Rue ke samping, tubuhnya jadi tameng di depan gadis yang ia cintai.
Anak panah menghantam bahu Rael. Ia terjatuh, tubuhnya terhuyung… tapi ia tetap berdiri, berdarah, menahan sakit.
“RAEL!!” teriak Rue, mencoba menopangnya.
Para prajurit mengangkat tombak. Pangeran melangkah maju, wajahnya masih tenang, seolah menyaksikan drama kecil yang tak layak mengusik tahtanya.
“Serahkan dia, dan kau akan dimaafkan,” katanya pada Rael.
Tapi Rael menatapnya lurus. Meski darah mengalir dari bahunya, suaranya tidak goyah. “Kau bisa ambil kerajaanmu… takhtamu… dan semua kekuasaanmu. Tapi kau takkan pernah bisa miliki hatinya.”
Pangeran tak menjawab. Ia memberi isyarat.
Tombak berikutnya menusuk udara malam.
Tapi sebelum senjata itu mencapai mereka, sebuah suara keras bergema—suara Raja Aldrevan.
“BERHENTI!!”
Semua membeku. Sang Raja mendekat, wajahnya marah… tapi matanya, saat melihat Rue dan Rael bersama, tampak mengandung sesuatu yang lebih dari kemarahan: kekecewaan.
“Rue… kau menodai darah bangsawanmu.”
“Ayah…” suara Rue bergetar. “Aku hanya mencintai…”
“Cinta?” Raja menggeram. “Cinta tidak memberi makan rakyat. Cinta tidak menjaga kerajaan tetap berdiri. Kau… akan menikah besok. Dan pria ini…”
Ia menatap Rael.
“…akan dihukum gantung saat matahari terbit.”
“AYAH, TIDAK!!” Rue berteriak.