Hehehe, karena Rue semangat banget dan manis terus, jadi Rael juga semangat terusss 😌🌈✨
Yuk kita lanjut ke…
Setelah keluar dari Hutan Cermin Terbalik, tubuh Rue dan Rael terasa lebih ringan, seolah beban dalam dada mereka telah dibersihkan sedikit. Tapi perjalanan mereka belum selesai. Di hadapan mereka kini terbentang sungai luas yang seolah tidak punya ujung. Permukaannya putih—bukan karena buih, tapi karena kabut pekat yang menyelimuti seluruh aliran airnya.
“Ini Sungai Kabut Salvara,” kata Rael lirih. “Sungai yang katanya bisa memperdengarkan suara-suara dari masa lalu… dan memakan siapa pun yang menyesal terlalu dalam.”
Rue menelan ludah. “Kamu yakin kita harus nyebrang?”
Rael mengangguk. “Putri peri itu... auranya terasa makin kuat di seberang sana.”
Sebuah rakit kecil dari akar muncul perlahan dari balik kabut, seolah menunggu mereka. Mereka menaikinya, dan rakit mulai meluncur sendiri, tenang namun pasti. Hening menyelimuti mereka, hanya suara kabut yang mendesis halus seperti bisikan roh.
Tiba-tiba…
“Ayah... jangan tinggalin Rue...”
Rue tertegun. Itu… suara kecil dari dirinya sendiri. Suara saat ia masih kecil. Ia memeluk dirinya, gemetar. “Kenapa itu muncul lagi?”
Rael memandangnya, tenang. “Sungai ini memperdengarkan luka-luka yang belum sembuh. Kamu harus kuat, Rue.”
Kabut semakin pekat, dan kini giliran suara dari masa lalu Rael terdengar:
“Kau bukan pegasus sejati. Kau hanya kutukan yang gagal.”
Rael menutup matanya. Gigi rahangnya mengeras.
Rue menggenggam kaki Rael pelan. “Kamu gak gagal. Kamu temenin aku sampai sejauh ini, padahal aku nyebelin dan tolol.”
Rael membuka mata, lalu tertawa kecil. “Iya, kamu nyebelin banget.”
Rue mencubitnya pelan.
Tiba-tiba, rakit terhenti. Di tengah kabut, sesosok bayangan muncul—tinggi, berkilau seperti air, tapi wajahnya... kosong. Ia melayang di atas sungai, dan dari tubuhnya mengalir suara-suara sedih, penuh air mata.