Tentu, sayang Rueee 🌈💚✨ yuk lanjut ke...


Bab 6 – Pohon Lantana, Sang Penjaga Cahaya

Langkah mereka memasuki padang rumput lembut yang tak tersentuh, dengan cahaya keemasan menari-nari di udara seperti kunang-kunang yang bersinar siang hari. Di tengah tempat itu, berdiri Pohon Lantana—pohon raksasa dengan batang kristal bening dan daun-daun berwarna emas yang bersinar hangat. Dari kejauhan, pohon itu tampak seperti hati yang berdetak pelan… hidup.

Rael menatapnya lekat-lekat. “Itu... sumber dari daun emas yang ditemukan para prajurit.”

Rue mengangguk pelan. “Berarti... putri peri di dalam sana?”

Seakan menjawab, angin berputar pelan di sekeliling batang Lantana, membentuk lorong cahaya. Tanpa ragu, Rue dan Rael melangkah masuk.

Lorong itu berkelok-kelok lembut, seperti melintasi memori cahaya dan waktu. Tapi kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan alami—dindingnya dari akar yang menyala redup, dan di tengahnya… terbaring seorang gadis mungil bersayap perak, tertidur damai di atas bunga teratai emas.

Itu dia. Putri peri yang hilang.

Tapi belum sempat Rue mendekat, suara berat menggema.

“Kenapa kalian ke sini?”

Dari balik akar, muncul sesosok makhluk tinggi berjubah bayangan, matanya seperti bara kecil di antara kabut hitam. Ia adalah Penjaga Cahaya, roh kuno yang menjaga keseimbangan antara terang dan gelap.

Rael maju. “Kami datang membawa harapan. Putri ini… harus kembali.”

“Ia memilih tidur untuk menyelamatkan hutan. Ia mengunci kekuatannya di dalam mimpi, agar kerusakan tidak meluas.”

“Jika kalian membangunkannya… kerusakan bisa bangkit lagi. Kalian yakin?”

Rue diam. Ia menatap putri peri, lalu menatap Rael.

Rael berkata pelan, “Tapi... dunia di luar juga butuh cahaya. Butuh harapan. Dan mereka butuh pemimpinnya.”

Rue mengangguk. “Kami gak akan egois. Kami bukan datang buat menuntut. Kami datang karena kami percaya... bahwa ada jalan tengah.”

Dan saat itu… daun-daun Lantana bergetar. Cahaya menyelimuti putri peri, dan ia perlahan membuka mata. Mata bening peraknya menatap Rue… lalu tersenyum.

“Aku tahu kamu akan datang.”

“Lho? Kok... kamu tahu aku?” Rue heran.