Bab 6 – Saat Langit Turun Bersama Namamu

Fajar menyapu langit Eldravelle dengan warna merah darah. Hari ini bukan lagi hari pernikahan kerajaan yang meriah…

Hari ini adalah hari eksekusi.

Di tengah alun-alun kerajaan, rakyat berkumpul. Di panggung kayu berdiri seorang pria—terikat, luka di bahunya masih belum mengering. Rael Virellian.

Di hadapannya, Raja Aldrevan berdiri diam. Tak ada keraguan di matanya.

Rue melihat semua itu dari jendela menaranya. Gaun pengantinnya telah dikenakan. Mahkota sudah dipasang. Tapi tubuhnya gemetar. Hatiku sudah mati, pikirnya… hanya tubuhku yang berdiri.

Pelayan membisikkan, “Saat lonceng berbunyi tiga kali, pernikahan dimulai, Yang Mulia…”

Tapi Rue tidak menjawab.

Ia hanya berdiri, menggenggam sesuatu di dadanya—sepotong bunga liar yang telah mengering, dan sepucuk surat terakhir dari Rael yang datang semalam lewat tangan pelayan kepercayaannya.

*“Kalau hari esok aku tidak ada… jangan tangisi aku. Cintaku akan hidup di dalam kamu. Dan kalau kau bisa memejamkan mata malam ini, lihatlah langit… karena aku akan ada di sana.

Jangan bawa hidupmu dalam duka.

Jalanilah… untuk dua orang.

Untukku juga.

— Rael”*

Lonceng pertama berbunyi.

Rael ditanya untuk terakhir kalinya, “Kau punya permintaan terakhir?”

Ia menatap langit yang perlahan diterangi mentari, dan berkata dengan suara pelan:

“Bolehkah aku memanggil namanya… sekali saja?”

Semua diam. Raja memberi isyarat setuju.

Rael mengangkat wajahnya. Matanya mencari arah menara istana. Dan dengan suara penuh cinta, ia berseru:

“Virelya Seralyx… Aku mencintaimu.”

Lonceng kedua berbunyi.

Tapi di menara, Rue sudah tidak ada.