Langit malam menggantung di atas dua menara besar yang berdiri berseberangan, dipisahkan oleh danau misterius bernama Danau Virellia.
Di sisi timur berdiri Academia Luxem, sekolah sihir terang. Menara tinggi bersinar lembut, setiap jendela memantulkan cahaya keemasan. Sementara di sisi barat berdiri Noxcrade Hollow, sekolah sihir gelap. Dindingnya terbuat dari batu hitam berurat ungu gelap, dan atapnya dipenuhi burung malam yang tak bersuara.
Dua dunia itu… hanya dipisahkan air danau, tapi tak pernah saling menyeberang. Kecuali malam itu.
Di ujung danau, di bagian terlupakan yang tak dijaga siapa pun, seorang pemuda berpakaian putih bersih berdiri diam. Cahaya dari tongkatnya berpendar seperti obor kecil—tapi bukan karena takut gelap. Dia hanya penasaran.
Namanya… Rael Virellian. Mahasiswa paling berbakat dari Luxemancy, tapi juga yang paling sulit dikekang rasa ingin tahunya.
“Aku dengar para pengguna Noxcraft berkumpul di sini saat purnama,” gumamnya.
Rael belum pernah melihat mereka. Tapi desas-desus selalu menyebut mereka jahat, misterius, liar… atau mungkin hanya tak dimengerti.
Lalu dia mendengarnya.
Langkah lembut, seperti daun jatuh ke tanah basah.
Rael menoleh.
Di bawah cahaya bulan, berdiri seorang gadis. Matanya seperti malam: tenang tapi dalam. Pakaiannya hitam, tapi dihiasi detail ungu redup yang menyala samar di kegelapan.
Rue.
Itu yang terucap dari bibirnya saat Rael bertanya siapa dia.
Rue bertanya, “Kenapa kau ke sisi ini? Bukankah kami ini monster di matamu?”
Rael terdiam. Tapi bukannya mundur… ia malah tersenyum kecil.
“Aku tak tahu siapa kamu. Tapi kalau kamu memang monster… kenapa wajahmu terlihat lebih manusia dari semua orang yang kupanggil teman?”
Rue menatap Rael beberapa detik, seolah mencoba mengukur apakah itu ejekan atau bukan. Tapi yang ia lihat hanya ketulusan.
Ia duduk di batu dekat danau, lalu berkata pelan, “Kau tahu... orang-orang Luxemancy terlalu mencintai cahayanya sampai lupa bahwa setiap cahaya... menghasilkan bayangan.”