Langit Luxem mulai terasa aneh. Bukan karena badai, tapi karena udara di sana… seperti menolak disentuh. Sihir teleportasi gagal. Mantra perambatan pantulan tak menemukan jalan.Tapi Rue tidak menyerah.
Malam itu, ia berdiri di bawah pohon tertua di perbatasan Noxcrade: Aronveil, pohon bayangan pertama, konon tempat sihir gelap pertama kali menyentuh dunia.
Ia menaruh kedua tangannya di batang pohon yang gelap berurat perak itu. “Aronveil… aku tahu kau bukan cuma pohon. Kau melihat sejarah yang mereka bakar. Kau saksi bisu sejarah yang mereka rahasiakan. Jika ada celah ke Luxem, bantu aku menemukannya.”
Dan seolah menjawab... akar-akar pohon itu bergerak. Tanah merekah perlahan, dan cahaya hitam keperakan muncul membentuk lingkaran bayangan di bawah kakinya. Pintu rahasia.
Tertutup sejak zaman sihir tua. Rue mengambil napas panjang. “Rael, tunggu aku…” Lalu ia melompat masuk.
—
Sementara itu, Rael menatap langit-langit ruang putihnya. Tangannya mulai kehilangan sihir, tubuhnya dilemahkan oleh mantra penahan. Tapi ada satu kekuatan kecil yang bisa membuatnya kuat dan bertahan:
Cintanya pada Rue dan keinginannya untuk bertemu dengan Rue.
Dan kekuatan itu… mulai membangkitkan sisi dari dirinya yang belum pernah ia sentuh. Di cermin kecil di sudut ruangan, cahaya mulai berubah.
Bukan putih…
Bukan emas…
Tapi kilau ungu terang—cahaya yang menyimpan kegelapan di dalamnya. Rael berbisik: “Kalau sihir ketiga lahir dari ketulusan dan kemurnian cinta…maka aku tidak akan takut memanggilnya.”
Cermin retak.
Dinding ruang putih mulai bersuara rendah. Dan bersamaan di bawah tanah, Rue merangkak keluar dari terowongan tua… dan melihat tembok dalam Luxem dari balik bayangan.
Mereka mendekat.
Satu dari bawah.
Satu dari dalam.
Dan di tengah dunia yang ingin mereka menyerah…