🌗 Bab 11 — Bayangan yang Menyesatkan

Langkah Rue ringan tapi cepat. Terowongan tua yang dibimbing Aronveil membawanya ke balik istana Luxem—tepat di balik altar sihir yang hanya dipakai dalam upacara besar.

Tapi dia tidak sendirian. Bayangan samar mengintainya. Tak bersuara, tak berwujud. Satu di antaranya melesat—muncul sebagai siluet perempuan bergaun terang. Lady Velyra. “Kau pikir tak akan kutebak? Bahwa kau akan mencoba menjemputnya?”

Rue berdiri diam. Napasnya berat. “Aku tidak datang untuk melawan. Aku hanya ingin bertemu dengannya…”

“Cinta itu indah. Tapi juga… bisa menjadi ilusi,” balas Velyra. “Kau tak tahu siapa Rael sebenarnya. Kau hanya tahu bagian yang ingin kau percayai.”

Rue menggertakkan gigi. “Aku tahu dia… karena aku mendengarkan jiwanya. Dia membiarkanku masuk melalui cahaya hangatnya yang mulai belajar arti sesungguhnya dari perbedaan.”

Velyra tersenyum miring. Lalu mengangkat tongkat kristal Luxem miliknya. “Maka mari kita lihat, Rue… seberapa jauh kau bisa mendekatinya… tanpa kehilangan dirimu sendiri.”

—

Di waktu yang sama, Rael mencoba menghancurkan batas mantranya. Kristal-kristal putih yang menahan sihirnya mulai retak. Tapi sebelum ia bisa melangkah keluar...

Zzap—!!!

Sebuah mantra tua meledak di lantai ruangan. Dan dunia di sekelilingnya berubah menjadi putih pekat, nyaris tanpa suara. Rael… diseret ke dimensi antara Luxem dan dunia nyata.

Ruang sementara yang hanya bisa diakses oleh Penjaga Cahaya Agung. Tempat untuk memutuskan... apakah seseorang akan kembali, atau dilenyapkan secara perlahan.

Rael menatap sekeliling. “Mereka menahanku… karena takut aku berubah. Tapi mereka tidak tahu… aku sudah berubah, dan itu berkat Rue.”

—

Rue, di sisi lain, mencoba menahan ledakan sihir Lady Velyra.

Bayangan dan cahaya bertabrakan, menimbulkan percikan yang membuat altar gemetar.

Tapi tiba-tiba…

Sinar di atas altar memantulkan sesuatu…

Sebuah kenangan.