Langit Luxem berubah. Pecahannya turun seperti serpihan kaca—membelah dimensi putih tempat Rael dan Rue berdiri.
Mereka hanya satu langkah dari sentuhan, tapi dunia tidak diam.
Dari seluruh penjuru Luxem dan Noxcrade, suara mantra dibacakan. Penjaga sihir, dewan sihir agung, dan seluruh sistem lama... bersiap menghentikan sesuatu yang mereka sebut “penyimpangan.”
“Pisahkan mereka, sebelum sihir ketiga mengakar!”
“Hentikan sebelum sejarah terulang!”
“Jangan biarkan gelap dan terang menyatu lagi!”
Mantra sihir tertinggi dikumpulkan. Satu demi satu, cahaya dan bayangan berlari menuju pusat retakan—tempat Rue dan Rael berdiri. Tapi sebelum mantra-mantra itu sampai…
Sesuatu terjadi.
Rue—yang telah kehilangan sihirnya—menutup matanya. Tangannya gemetar, bukan karena takut… tapi karena ada sesuatu yang tumbuh di dalam dirinya. Bukan sihir.Bukan kekuatan kuno.
Tapi pemahaman.
—
Ia tidak menangkis mantra.
Tidak melawan.
Ia menatap dunia… dan berbicara. “Kalian semua takut akan hal yang tidak kalian mengerti. Kalian berkata aku kegelapan, dan Rael cahaya… tapi kalian lupa satu hal… Bayangan lahir bukan karena kegelapan… tapi karena cahaya yang menyilaukan.”
Mantra-mantra itu melambat. Udara berhenti bergerak. Waktu sendiri... seolah menunggu.
Rue melangkah maju, mendekat ke Rael, yang kini juga mulai memahami. Tak ada api. Tak ada ledakan. Mirip percikan yang muncul bersamaan dengan terbukanya sihir ketiga. Hanya kata-kata.
Dan dari Rue… cahaya lembut berpendar. Bukan putih. Bukan ungu. Tapi… transparan. Seperti gema. Seperti kesadaran. “Aku tidak ingin mengubah dunia ini lewat kekuatan. Aku ingin dunia ini berhenti menghakimi dengan warna.”
Rael menyahut, “Karena cahaya tanpa pengertian hanyalah kesombongan”