Sejak malam itu, Rael tidak bisa memejamkan mata tanpa bayangan Rue muncul di benaknya—bukan karena wajahnya, tapi karena kata-katanya.
Hari-hari di Academia Luxem tetap berjalan dengan cahaya dan kebanggaan. Ruang-ruang penuh marmer putih dan kristal terang bersinar seperti biasa. Tapi di tengah semua itu, Rael mulai melihat sesuatu yang dulu tak ia sadari:
Bayangan.
Bayangan kesombongan, bayangan penindasan, bayangan dari mereka yang merasa benar hanya karena bersinar lebih terang.
Sementara itu di sisi seberang, Rue berjalan menyusuri aula bawah tanah Noxcrade Hollow. Di sekelilingnya, para pengguna Noxcraft mengasah sihir di antara ukiran batu dan cahaya ungu lembut yang nyaris tak terlihat.
Tapi Rue tak bisa fokus. Ia terus mengingat Rael—bukan karena dia dari sihir terang, tapi karena… Rael tidak menghakimi, Rael tidak memiliki cahaya yang membuatnya silau dan menutup mata, Rael seperti cahaya obor yang hangat yang bisa menemaninya bahkan menuntunnya berjalan. Rael mendengarkan. Itu hal yang baru bagi Rue, hal baru yang memberi rasa nyaman, bukan ketakutan.
—
Suatu malam, beberapa hari setelah pertemuan pertama, Rael kembali ke tepi Danau Virellia.
Kali ini ia tak menunggu lama.
Rue sudah ada di sana, berdiri tenang dengan rambutnya ditiup angin danau.
“Kau datang lagi,” ucap Rue pelan.
Rael tersenyum. “Dan kau menunggu.”
Rue menahan senyum, lalu duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Rael ikut duduk di dekatnya, dan sejenak mereka diam… sampai Rael bertanya: “Rue… kenapa kamu tetap belajar Noxcraft meski seluruh dunia membencinya?”
Rue menatap ke air gelap di hadapannya. Lalu menjawab pelan: “Karena aku tak percaya pada cahaya yang dibentuk dari kebencian.
Dan karena… meski dunia takut pada gelap, tapi di sana aku bisa merasakan ketenangan.”
Rael mengangguk perlahan. “Aku mulai berpikir… mungkin yang paling terang tidak selalu menjadi yang paling benar.”
Rue menoleh. “Dan mungkin… yang paling gelap bukan bukan berarti yang paling salah.”
Malam itu, mereka duduk lebih lama dari sebelumnya. Mereka mulai bertanya tentang pelajaran, tentang sihir, tentang masa kecil… tentang hal-hal yang tak pernah mereka bagi ke siapa pun.