🌗 Bab 3 — Cahaya yang Terlalu Putih

Keesokan harinya, Rael berdiri di ruang kelas sihir tinggi Luxem, dikelilingi sinar yang memantul dari kristal-kristal langit-langit.

Guru besar berbicara tentang kemurnian cahaya, tentang bagaimana sinar putih mampu “membakar kegelapan hingga bersih tanpa sisa.”

Tapi bagi Rael, kata-kata itu mulai terdengar… kosong.

Pikirannya terus melayang pada Rue. Pada percakapan mereka. Pada caranya menyebut kegelapan bukan sebagai kekuatan jahat, tapi sebagai ruang yang menyembunyikan luka, bukan dosa.

Saat kelas selesai, Rael berjalan ke halaman tengah akademi—di mana Lady Velyra sudah menunggunya.

“Rael,” ucapnya, dingin namun penuh kendali. “Kita perlu bicara.”

Rael menunduk hormat, tapi matanya tetap tenang.

“Ya, Lady Velyra?”

Ia mendekat, suara sehalus angin—tapi tak bisa menyembunyikan ancaman di baliknya.

“Aku dengar kau sering berada di sisi danau yang tak seharusnya. Bersama seseorang yang tak seharusnya.”

Rael tidak menjawab. Tapi Velyra melanjutkan, “Kegelapan itu seperti racun. Awalnya diam, tapi pelan-pelan menghancurkanmu dari dalam.”

Rael menatapnya, mata birunya tak goyah.

“Lucu. Karena selama ini aku diajari bahwa cahaya menyembuhkan. Tapi akhir-akhir ini… cahaya juga bisa membutakan.”

Lady Velyra menegang. Tapi sebelum sempat berkata lebih, langkah lain masuk ke dalam percakapan mereka.

Laziel.

Tinggi, tampan, berambut perak seperti ibunya. Auranya kuat, dan sorot matanya menusuk. Ia menatap Rael dengan senyum samar.

“Kamu berubah, Rael,” katanya. “Apa karena gadis sihir gelap itu?”

Rael diam.