🌗 Bagian 4 — Antara Kita dan Dunia

Hari-hari berikutnya, langit di atas danau Virellia terasa lebih berat.

Seolah semesta tahu bahwa ada dua hati yang sedang berjalan di atas tali rapuh, di antara cinta dan kehancuran.

Tapi Rael dan Rue tetap bertemu.

Di tepi danau, di tempat rahasia yang hanya mereka tahu, dua dunia itu terus berbicara.

Kadang hanya diam berdampingan, kadang tertawa kecil, kadang saling berbagi hal-hal yang bahkan tidak mereka sadari telah lama mengendap.

Hari ini, Rue datang lebih dulu. Ia duduk sambil membawa buku tua berisi mantra Noxcraft tingkat tinggi.

Rael datang dengan membawa apel merah dan seikat bunga kecil yang baru ia petik dari taman herbal akademi.

“Untukku?” tanya Rue, menatap bunganya.

Rael mengangguk pelan. “Kalau kamu menolak, mereka bisa layu sendiri.”

Rue tertawa kecil—tawa yang jarang muncul, tapi membuat udara malam terasa hangat.

“Aku suka,” katanya akhirnya. “Bunga ini... warnanya gelap. Tapi tetap indah.”

Rael duduk di sebelahnya, menatap buku mantra Rue. “Mengapa sihir gelapmu harus selalu dicurigai?” tanyanya pelan.

Rue menutup bukunya perlahan. Lalu berkata: “Karena mereka tak pernah mencoba membacanya.”

“Mereka takut?”

“Mereka terlalu percaya bahwa mereka benar. Dan kepercayaan seperti itu… membuat mereka buta.”

Rael terdiam. Lalu berkata:

“Rue… jika dunia ini tak mengizinkan kita bersama, apa kau akan tetap melawan?”

Rue menoleh pelan, tatapannya tak gemetar.