Suasana Academia Luxem berubah sejak malam itu.
Rumor tentang Rael—anak cahaya paling bersinar—terlibat dengan pengguna Noxcraft, menyebar lebih cepat dari sihir teleportasi.
Mereka tak pernah menyebut nama Rue.
Mereka hanya menyebutnya: "Si gadis gelap yang menodai pewaris terang."
Di ruang atas Luxem, Lady Velyra duduk di balik meja panjang dari kristal.
Di hadapannya, duduk para kepala akademi, guru besar, dan... Laziel.
“Apa yang dilakukan Rael,” ujar salah satu kepala akademi, “adalah penghinaan terhadap sistem kemurnian kita.”
Lady Velyra tak mengangkat suara, tapi nada dinginnya menembus semua percakapan. “Ini bukan hanya tentang penghinaan. Ini tentang ketidakseimbangan.Bila cahaya menyatu dengan gelap… akan lahir kekacauan yang tak terduga.”
Laziel menunduk, tapi di balik kepalanya yang menekuk, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Izinkan aku memperbaikinya,” katanya lembut. “Rael teman lamaku. Mungkin dia hanya… tersesat.”
Velyra menatap anaknya dalam-dalam. Lalu mengangguk sekali. “Bimbing dia kembali ke cahaya. Dengan cara apapun.”
—
Di sisi lain, Rue kembali ke ruang bawah tanah Noxcrade.
Ia dipanggil oleh salah satu pengajar tertua—Profesor Nierel, yang dikenal bijak sekaligus misterius.
Pria itu menatap Rue dengan mata tajam, tapi bukan karena curiga. Melainkan... karena dia tahu lebih banyak dari yang terlihat.
“Jadi kamu gadis itu,” katanya pelan. “Gadis yang membuat cahaya ragu pada dirinya sendiri.”
Rue menunduk sedikit, tak tahu apakah itu pujian atau sindiran.
“Kau tahu risiko yang kau ambil?” lanjut Nierel. “Jika kamu mencintainya… dunia akan menuntut sebagian dari dirimu sebagai harga.”
Rue mengangguk.