Pagi itu, Rue tak bisa menemukan Rael di tempat biasa.
Danau itu sunyi. Tak ada langkah kaki, tak ada jejak di rerumputan. Hanya kabut tipis menggantung… dan keheningan yang terasa asing.
Di sisi lain, Rael bangun di dalam ruang putih yang tak ia kenali. Dindingnya bercahaya samar, seperti tidak dibuat dari batu ataupun sihir biasa. Ia mencoba berdiri, tapi mantra pengikat Luxem membungkus pergelangan kakinya.
“Ini bukan penjara.” Suara Lady Velyra terdengar dari pintu yang terbuka. “Ini tempat penyembuhan. Untuk menyelamatkanmu... dari dirinya.”
Rael menatap Velyra, tapi bukan dengan marah. Melainkan dengan luka. “Kenapa kau takut sekali pada sesuatu yang bahkan belum kami pahami sepenuhnya?”
Velyra mendekat, menaruh tangan di pundaknya. “Karena aku telah melihat dunia nyaris runtuh, Rael. Aku masih kecil ketika sihir ketiga hampir lahir di generasi sebelumnya.”
“Dan aku tahu: cinta semacam itu… bukan hanya tentang dua hati. Itu tentang membangunkan kekuatan yang bisa menghancurkan tatanan dunia kita yang sudah disusun sejak lama.”
Rael diam, tapi hatinya tetap teguh. “Kalau begitu… biarkan aku lihat dengan mataku sendiri. Jangan lindungi aku dengan omong kosong tanpa bukti.”
—
Rue, di sisi lain, mulai merasa ada yang tidak beres. Ia mencoba menembus batas Luxem dengan mantra teleportasi bayangan—tapi sihirnya terpental.
Ia mencoba mengirim pesan magis, tapi energinya tertelan kabut Luxem yang dipadatkan. Bahkan danau pun kini dijaga penjaga sihir tinggi.
Rue merasa terisolasi. Tapi bukan rasa terkurung yang membuat dadanya berat—melainkan firasat… bahwa Rael tengah dijauhkan secara paksa.
—
Malam itu, Rue berdiri di tebing yang menghadap Luxem. Matanya menatap lembah, danau, serta menara terang yang menjulang. Tiba-tiba, sesuatu muncul di udara. Cahaya samar, berbentuk seperti selembar kelopak.Bukan sihir Rue, bukan juga sihir Luxem. Itu... ingatan.
Potongan memori yang tak sengaja terlempar keluar karena resonansi sihir mereka. Rue menyentuh kelopak itu, dan seketika, ia melihatnya: Rael, duduk di ruang putih, tubuhnya lemas. Tak ada aura sihir terang di sana, sepertinya sihir Rael ditahan. Ia menggenggam sesuatu—potongan kain hitam ungu, milik Rue.
Rael berkata dalam hati: “Rue... aku akan keluar dan menemuimu. Apapun caranya.”
—
Dan malam itu juga, Rue memutuskan untuk mencari jalan menembus batas antara terang dan gelap. Tak untuk melawan. Tapi untuk mengembalikan satu hal yang semesta sendiri pernah akui: