Beberapa minggu telah berlalu sejak retakan langit pertama.
Luxem dan Noxcrade tidak langsung bersatu. Masih ada tembok. Masih ada tatapan curiga. Masih ada bisik-bisik yang mempertanyakan:
“Kenapa mereka tidak dihukum?”
“Kenapa sihir ketiga tak dimusnahkan?”
Tapi tidak semua memilih membenci. Beberapa mulai diam dan mendengarkan. Mereka mulai belajar. Beberapa guru mulai mengubah caranya mengajar.
Beberapa anak muda dari Lux dan Nox saling bertanya—bukan dengan tuduhan, tapi dengan rasa ingin tahu dan penuh penghargaan.
Itu belum damai. Belum diterima. Tapi... Sudah cukup untuk memulai.
—
Rael kini kembali menjalani hari-hari di Luxem. Dia tetap belajar sihir terang, tapi dengan pandangan yang tak lagi sempit.
Kadang saat dia melontarkan mantra, cahayanya berubah sedikit—lebih lembut, tak setajam dulu.
Kadang dia duduk di danau dan melihat ke arah utara... Ke tempat di mana Rue tinggal.
—
Rue, sementara itu, belum sepenuhnya memulihkan kekuatannya. Tapi ia menemukan sesuatu yang lebih abadi dari sihir:
Kekuatan mendengarkan.
Kekuatan bertahan tanpa harus membalas.
Kekuatan mencintai dan berani berkorban.
Kekuatan untuk belajar, mengakui, dan menerima.
Kekuatan untuk selalu merasa cukup
Dan di ruang latihan gelap yang dulu dipenuhi bisikan dendam, kini Rue mengajar satu atau dua murid kecil… yang bertanya: “Kak Rue, sihir ketiga itu bentuknya seperti apa?”
Dan Rue hanya tersenyum. “Sihir ketiga tidak punya bentuk. Tapi kalau kamu lihat seseorang yang berbeda dan kamu memilih untuk tidak menghakimi dan takut... mungkin kamu sedang menggunakannya.”
—
Dan pada malam-malam tertentu… Saat angin lembut melintasi danau, dan bulan menggantung setengah penuh, dua sosok—berdiri di sisi berbeda dunia—menatap langit yang sama.
Tak berbisik mantra. Tak memanggil satu sama lain.Hanya berdiri… dan tahu bahwa cinta mereka masih ada. Masih kuat.